BREAKING NEWS | RAGAM | OLAHRAGA | KRIMINAL | NASIONAL | INTERNASIONAL | ADVERTORIAL

RAGAM

Senin, 15 April 2019 12:55
Muktamar OBOR

PROKAL.CO,  

Oleh: Dahlan Iskan

 

Tetap saja Mahathir Muhamad adalah Mahathir Muhamad. "Saya akan pilih Tiongkok yang kaya daripada Amerika yang tidak jelas komitmennya," ujarnya. Bulan lalu. Seperti dikutip luas media internasional.

Dor!

Ia pun ambil putusan. Sensitif. Rasional. Kereta cepat OBOR yang pernah ia batalkan itu silakan jalan lagi. Setelah Tiongkok mau turunkan harga.

Turun harga? Menjadi berapa? “Nilai turunnya saja bisa untuk membangun dua proyek menara kembar sekaligus," ujar DR Daim Zainuddin. 

Daimlah yang ditugasi Mahathir untuk nego ulang. Ia pernah menjabat menteri keuangan. Dua kali. Di zaman pemerintahan Mahathir yang dulu. Kini jabatan resminya panasehat perdana menteri. 

Daim sudah sangat tua, 80 tahun. Meski belum setua Mahathir. Yang tahun ini berumur 93 tahun. 

Daim juga terlihat tidak sesehat Mahathir. Kalau jalan kaki sudah agak tertatih. Kadang pakai tongkat. 

Daimlah yang mondar-mandir ke Beijing. Untuk membawa misi Mahathir: turun harga atau batal sama sekali.

Sikap Tiongkok awalnya juga sangat tegas: batal saja. Tapi Mahathir tahu. Proyek ini adalah simbol OBOR terpenting di Asia Tenggara. Proyek terbesar di Malaysia. Perlu nego. Mahathir tahu kemampuan Daim. 

Daim adalah pengusaha. Sejak sangat muda. Setamat kuliah di Berkeley University California, Daim mulai merintis usaha. Bidang yang ia pilih adalah: bisnis garam. Bikin tambak garam. Ia beli lahan pantai barat. Ia belajar tambak sampai ke Thailand dan Taiwan.

Mengapa ia pilih bisnis tambak garam? Alasannya unik: ahli fengsui mengatakan bahwa Daim akan sukses kalau memilih bisnis yang ada hubungan dengan air.

Mantaplah Daim di bisnis tambak garam. Matanya pun berbinar. Saat ia melihat tambak garamnya sukses. Hampir sukses. Kristal-kristal garamnya sudah tampak memutih di tambaknya. Sebentar lagi bisa panen raya.

Alamak! 

Hujan deras!

Kristal-kristal itu lenyap. 

Tambak milik Daim-muda itu pun gagal total. Ia nyaris bangkrut. 

Untung ia terjatuh ketika masih sangat muda. Mudah untuk bangkit lagi. 

Lalu ia pindah ke bisnis properti. Di sini ia mulai sukses. Beneran. Lalu jadi politisi. Jadilah anggota DPR. Jadi menteri keuangan. 

Dua kali pula. Periode pertama selama 8 tahun. Lalu digantikan oleh Anwar Ibrahim.

Saat krismon tahun 1998 Mahathir bertengkar dengan Anwar. Soal cara mengatasi krisis. Anwar ingin Malaysia  minta bantuan IMF. Mahathir tidak mau. Anwar dipecat. Digantikan oleh Daim lagi. Padahal Anwar sudah digadang-gadang bakal jadi calon penggantinya. Jabatannya pun sudah wakil perdana menteri. Merangkap menteri keuangan.

Kini Mahathir berkuasa lagi. 

Mahathir tetap seperti dulu. Mengutamakan akal sehat: saat ini Malaysia perlu investasi asing. Yang besar. Untuk menghidupkan kembali perekonomian Malaysia. Yang lagi di bibir jurang itu. Juga untuk memulihkan kepercayaan asing. 

Sayangnya perjanjian proyek itu sudah mengikat Malaysia: kalau batal begitu saja Malaysia harus membayar kompensasi besar. Syarat itu sudah ditandatangani Najib Razak. Yang kalah di Pemilu hampir setahun lalu.

Waktu itu Najib komit. Untuk membangun kereta cepat sejauh 680 Km. Sejauh Jakarta ke Surabaya. Mulai dari pantai Barat Malaysia. Memotong ke pantai timur Terengganu. Lalu menyusuri pantai ke arah utara. Berakhir di Kota Bahru. Ibukota negara bagian Kelantan. Dekat perbatasan dengan negerinya Jirayut itu.

Saya pernah menyusuri jalur ini. Juga sampai ke Pattani di Thailand. Kawasan pantai Timur ini memang jauh tertinggal dari Barat. 

Bagi Malaysia kereta ini nanti akan lebih berperan di angkutan barang. Untuk membawa hasil bumi di Timur ke pelabuhan besar Port Klang di pantai Barat. Jalan darat. Tidak lagi harus melewati perairan Singapura.

Bagi Tiongkok lebih penting lagi. Inilah potongan jalur kereta Asia. Yang menghubungkan Singapura ke seluruh dunia. Lewat Tiongkok.

Mahathir memang negosiator ulung. Demi negerinya. Ia tahu proyek itu mahal. Tepatnya: kemahalan. Ia tahu hitungan. Seperti Pak JK. Pun ia menangkap ada aroma lain mengapa proyek itu mahal. Ada mark up. Untuk kepentingan Pemilu. Agar Najib terpilih lagi.

Tapi bukan alasan mark up itu yang dipakai Mahathir untuk nego. Mahathir pilih blak-blakan. Apa adanya. "Ekonomi Malaysia lagi sulit. Tidak akan kuat membayar hutang sebanyak itu," ujar Mahathir selalu.

Kalau alasan mark-up yang dipakai akan sulit. Secara hukum maupun psikologis. Secara hukum toh sudah disetujui. Secara psikologis akan menyinggung Tiongkok: Anda nyogok!

Mahathir memilih cara elegan. Meski kelihatannya seperti mengungkap kelemahan diri sendiri. 

Mahathir lantas menekan Tiongkok. Harga yang semula RM 65,5 miliar itu turun tinggal RM 44 miliar. Turunnya saja RM 21 miliar. Itu tadi. Cukup untuk membangun dua menara kembar. Yang begitu iconic di Kuala Lumpur.

Memang panjang proyek itu dikurangi. Dipotong 40 km. Dengan cara memperbaiki jalur. Tapi hitungan perkilometernya pun memang lebih murah. "Turun dari 98 juta Ringgit ke 68 juta," ujar Daim kepada wartawan Jumat kemarin.

Dua pihak kini lega. Mahathir bisa memenuhi sebagian janji kampanyenya yang garang: batalkan proyek Tiongkok.

Tiongkok juga lega. Akhir bulan ini akan ada muktamar OBOR di Beijing. Semua negara yang terkait proyek One Belt One Road akan hadir. Kasus Malaysia tidak akan jadi duri lagi dalam Summit itu.

Saya belum dapat keterangan siapa yang hadir di muktamar itu untuk mewakili DPC OBOR  cabang Indonesia.(Dahlan Iskan)

loading...

BACA JUGA

Selasa, 16 April 2019 20:53

BPJS Kesehatan Gelontorkan Rp 11 Triliun untuk Bayar Tunggakan di Rumah Sakit

BALIKPAPAN - Angin segar datang dari dunia kesehatan. Badan Penyelenggara…

Selasa, 16 April 2019 19:13

Ini Penjelasan Ketua KPU dan Wali Kota Terkait Persiapan Pemilu 2019 di Balikpapan

BALIKPAPAN - Tempat Pemungutan Suara (TPS) Pemilu 2019 di Balikpapan…

Selasa, 16 April 2019 19:11

Patroli ke TPS-TPS, Kapolres dan Anggotanya Pastikan Siap Amankan Pemilu di Balikpapan

BALIKPAPAN - Kapolres Balikpapan, AKBP Wiwin Firta memastikan pihaknya telah…

Senin, 15 April 2019 22:30

Minim Anggaran Penanggulangan Bencana Kaltim, BPBD Prioritaskan Edukasi Bencana

BALIKPAPAN - Tak ada yang tahu kapan musibah bencana datang.…

Senin, 15 April 2019 22:28

Surat Suara yang Rusak Sudah Diganti, Balikpapan Siap Gelar Pemilu 2019

BALIKPAPAN - Komisi Pemilihan Umum (KPU) Balikpapan memastikan siap menggelar…

Senin, 15 April 2019 13:08

Oman Ibadi

  Oleh: Dahlan Iskan     Telur burung itu. Ditelurkannya…

Senin, 15 April 2019 12:55

Muktamar OBOR

  Oleh: Dahlan Iskan   Tetap saja Mahathir Muhamad adalah…

Senin, 15 April 2019 12:41

Leukemia Pengantin Remaja

  Oleh Dahlan Iskan   "Dari menjenguk Bu Ani Yudhoyono…

Sabtu, 13 April 2019 17:40

SEMANGAT..! Ini Cara KPU Balikpapan Distribusikan Surat dan Kotak Suara

BALIKPAPAN - Pemilu 2019 tinggal empat hari lagi. Kondisi ini…

Jumat, 12 April 2019 19:54

AP I Balikpapan Gelar Lomba Pemadam Kebakaran Airport

BALIKPAPAN - PT Angkasa Pura (AP) I Balikpapan menggelar lomba…

Pesan Gubernur kepada Pemenang MTQ, Teruslah Berlatih!

DPRD Berharap Bapenda Segera Dibentuk

Ketua DPRD Pertanyakan Visi Misi Bupati

Dewan Minta DPUPR Evaluasi Proyek Multiyears

Bekerja di Hari Pemilu, Karyawan RSUD Beriman Tetap Bisa Nyoblos

Warga Rutan Klas II B Nyoblos, Ada 678 Orang yang Terdata di DPT

Wali Kota Balikpapan Nyoblos ke TPS, Ini Imbauannya agar Pemilu Lancar..

BPJS Kesehatan Gelontorkan Rp 11 Triliun untuk Bayar Tunggakan di Rumah Sakit

Ini Penjelasan Ketua KPU dan Wali Kota Terkait Persiapan Pemilu 2019 di Balikpapan

Patroli ke TPS-TPS, Kapolres dan Anggotanya Pastikan Siap Amankan Pemilu di Balikpapan
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .
*