BREAKING NEWS | RAGAM | OLAHRAGA | KRIMINAL | NASIONAL | INTERNASIONAL | ADVERTORIAL

INTERNASIONAL

Minggu, 04 November 2018 18:44
Akademisi Imbau Masyarakat Bijak Hadapi Isu Kashmir
(Foto : ist)

PROKAL.CO, JAKARTA--Para akademisi mengimbau kepada seluruh masyarakat untuk lebih cermat dan bijak dalam meanggapi isu terkait Kashmir. Konflik Kashmi ini adalah perebutan wilayah antara negara India dan Pakistan ke atas wilayah Kashmir. Sementara itu, India mendakwa seluruh negeri Jammu dan Kashmir adalah haknya. 

Direktur Sekolah Kajian Stratejik dan Global (SKSG) Universitas Indonesia,  Muhammad Luthfi mengunkapkan,  ini merupakan isu sensitif yang rentan digunakan oleh pihak tidak bertanggung jawab. "Para akademisi diharap dapat menganalisa secara cermat dan menjadi penengah demi mencapai penyelesaian terbaik bagi masalah Kashmir. Bukan menjadi pihak yang mengompori isu sensitif ini," terag Luthfi dalam acara kuliah umum yang bekerja sama dengan Kedutaan Besar Pakistan di Gedung IASTH kampus UI Salemba, Jumat (2/11) lalu. 

 Acara yang bertema Future of Kashmir Issue and Its Strategic Implications ini dihadiri oleh akademisi dan mahasiswa dari berbagai perguruang tinggi wilayah Jabodetabek. Terdapat 3 pembicara yang mengisi kuliah umum tersebut, yaitu Duta Besar Pakistan, Abdul Salik Khan, Atase Pertahanan, Kolonel Khuram Shabbir dan Ketua Umum Forum Solidaritas Kashmir. Zahir Khan.

Pada sambutannya,  Duta Besar Abdul Salikh Khan sempat  memperlihatkan slide keindahan alam Kashmir setelah menceritakan perjalanan panjang Pakisan menjadi sebuah negara. Dubes Abdul pun membandingkan geografi dan demografi Kashmir semenjak sebelum dan sesudah okupasi India. Beberapa resolusi PBB dikeluarkan yaitu tahun 1948, 1951, 1957, dan 1999 yang menyerukan penyelesaian masalah Kashmir melalui referendum untuk memfasilitasi masyarakat Kashmir menentukan pilihan sendiri, namun sampai saat ini tidak membuahkan hasil.

Pada sesi kedua, Zahir Khan menyatakan bahwa hubungan India dan Kashmir bukan semata masalah wilayah, tetapi juga masalah agama. "Kami berharap adanya dukungan masyarakat Indonesia terkait masalah tersebut sebagaimana dulu Pakistan mendukung Indonesia meraih kemerdekaan," tuturnya.  Zahir Khan mensinyalir salah satu tokoh kemerdekaan, Fadhilah Khan yang dikenal sebagai Fatahillah, berasal dari Pakistan.

Dalam kesempatan yang sama, Khuram Shabbir memberikan komparasi wilayah Indonesia dan Kashmir berikut penduduknya. “Kashmir yang hanya 400 km kali kurang lebih 300 km dimasuki oleh 700.000 tentara India. Jumlah ini tidak sebanding dengan kecilnya wilayah,” terangnya. Ia pun menceritakan suasana kehidupan di Kashmir yang penuh ancaman karena serangan tidak terduga dari tentara India.

Selanjutnya, beberapa poin penting turut disampaikan oleh Islamic and Middle Eastern Research Center (IMERC) Nur Munir. Dijelaskan bahwa  IMERC melalui medium ini berusaha melaksanakan amanat pembukaan UUD NRI Tahun 1945 alinea pertama tentang hak kemerdekaan bagi segala bangsa, dan alenia keempat tentang ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial. Dua alenia ini menjadi dasar politik luar negeri Indonesia, yaitu “bebas dan aktif.” Undang-Undang (UU) No. 39 tahun 1999 mengenai Hak Asasi Manusia, dan UU No. 12 tahun 2005 mengenai ratifikasi International Covenan on Civil and Political Rights (ICCPR) 1966 adalah landasan legalitas lebih detil bagi Indonesia untuk perlunya memberikan kontribusi bagi penyelasaian masalah Kashmir. Dasar legalitas ini seirama dengan lingkungan hukum internasional, yaitu United Nations Declaration on Human Rights (UDHR) 1948 dan ICCPR 1966. Maka IMERC merekomendasikan kepada pemerintah Indonesia untuk meningkatkan peran aktif dalam “bebas dan aktif” menangani isu Kashmir yang hingga saat ini masih berlangsung.

Diketahui, IMERC adalah lembaga riset dibawah naungan SKSG UI menjadi wadah penelitian, seminar, publikasi dan kegiatan ilmiah lain, khususnya terkait isu-isu masyarakat muslim dunia dan Timur Tengah. Hasil penelitian IMERC diharapkan tidak hanya sebagai pembelajaran bagi bangsa Indonesia, tetapi lebih jauh menjadi kontribusi SKSG dalam kajian keilmuan khususnya mengenai isu-isu Timur Tengah, Islam dan mayarakat Muslim dunia.  (*/sar/pro)

 


BACA JUGA

Minggu, 04 November 2018 18:44

Akademisi Imbau Masyarakat Bijak Hadapi Isu Kashmir

JAKARTA--Para akademisi mengimbau kepada seluruh masyarakat untuk lebih cermat dan…

Jumat, 20 April 2018 16:04
BREAKING NEWS

Nilai Kerja Sama Bisnis Indonesia – Afrika Tembus Rp 30 Triliun

  JAKARTA – Event perdana Indonesia-Africa Forum (IAF) 2018 di…

Minggu, 17 September 2017 13:24

Mahalnya iPhone X, Sampai Ingin Jual Ginjal

APPLE  baru saja meluncurkan seri terbaru jajaran ponsel unggulannya yakni…

Kamis, 24 Agustus 2017 15:59

Gara-gara Saling Ejek, Petarung MMA Tewas di Trotoar

SEORANG petarung bebas asal Rusia tewas setelah mendapat lawan sepadan…

Kamis, 24 Agustus 2017 10:28

Sutradara Hangover Garap Musuh Abadi Batman

WARNER Bros dan DC Entertainment kembali bekerjasama membuat film superhero.…

Selasa, 22 Agustus 2017 14:48

Waduh... Senator Ini Berharap Ada yang Membunuh Donald Trump

SEORANG senator asal Missouri didesak meletakan jabatan setelah menyerukan pembunuhan…

Rabu, 16 Agustus 2017 21:25

Sereeeem... Tangan Bocah ini Melepuh Akibat Tato Henna

APAKAH Anda penggemar tato ?  Sudah siapkah dengan segala konsekuensinya?…

Rabu, 16 Agustus 2017 20:56

Daniel Craig Tetap Bintangi James Bond

DANIEL Craig akhirnya memastikan bakal kembali membintangi agen rahasia Inggris…

Rabu, 16 Agustus 2017 05:28

Tragis, Stuntwoman Film Deadpool 2 Meninggal Akibat Kecelakaan

SEORANG pemeran pengganti wanita atau stuntwoman dikabarkan  meninggal  dunia dalam…

Rabu, 09 Agustus 2017 16:14

Gitaris Rolling Stones Positif Kanker Paru

KABAR mengejutkan datang dari Ronnie Wood, gitaris grup rock legendaris…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .