BREAKING NEWS | RAGAM | OLAHRAGA | KRIMINAL | NASIONAL | INTERNASIONAL | ADVERTORIAL

NASIONAL

Minggu, 19 Agustus 2018 18:36
Berbekal Kreativitas Berkebun, Jopy Nikmati Omzet Rp 238 Juta per Tahun

Ikut Dongkrak Perekonomian Masyarakat Rote Ndao

Jopy Henukh (tengah), transmigran asal Rote Ndao , Nusa Tenggara Timur (NTT) yang berhasil meraih predikat Juara 2 Transmigran Teladan 2018 karena dinilai mampu berinovasi dan kreatif dalam mengelola lahan perkebunan di kawasan transmigrasi. (foto : nicha/kaltim post)

PROKAL.CO, JAKARTA—Rote Ndao merupakan sebuah kabupaten di provinsi Nusa Tenggara Timur yang terletak di beranda terselatan Indonesia. Kabupaten ini memiliki 8 kecamatan, yakni, Rote Barat, Rote Timur, Rote Tengah, Rote Barat Daya, Rote Barat Laut, Rote Selatan, Pantai Baru dan Lobalain.


Secara topografi, Rote Ndao adalah wilayah pesisir yang eksotis. Sebagian besar masyarakat Rote Ndao berasal dari Suku Rote yang menggunakan bahasa Rote sebagai bahasa sehari-hari. Agama yang dianut oleh mayoritas penduduk Rote adalah Kristen dan sebagian beragama Islam yang menempati ibu kota kabupaten.


Rote Ndao memiliki tanah yang termasuk subur jika dibandingkan dengan kabupaten lain di Nusa Tenggara Timur. Mata pencaharian utama penduduk Rote Ndao adalah petani.
Daerah inilah asal Jopy Henukh, transmigran lokal yang tinggal di desa Lidor, Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur (NTT). Jopy adalah peraih Juara II Transmigran Teladan 2018. Terpilihnya Jopy sebagai salah satu transmigran teladan karena dinilai mampu mengembangkan inovasi dan kreativitas untuk mendongkrak perekenomian di Rote Ndao.

Jopy—sapaan akrabnya, bercerita keikutsertaannya dalam program transmigrasi dimulai pada tahun 2014. “Saya hanyalah seorang petani . Alhamdulillah pada tahun 2015 bisa menjadi transmigran lokal di Lidor,” terang Jopy saat ditemui usai acara Penganugerahan Transmigran Teladan di Gedung Balai Makarti Muktitama, Jakarta, Rabu (15/8) lalu.
Transmigran lokal yang dimaksud Jopy, adalah transmigran yang penempatannya tidak dipindah ke luar daerah atau pulau. Tetapi ditempatkan di daerah yang sama dan tinggal bersama warga transmigran lainnya.


“Awalnya saya mendengar sosialisasi dari kementerian yang sampai di kabupaten dan desa saya. Kemudian saya tertarik. Saat itu tahun 2013 saya mencoba mendaftar, tetapi ternyata kuotanya hanya 100 Kepala Keluarga (KK). Sehingga saya tidak mendapat kuota. Akhirnya saya mendaftar lagi tahun 2014 yang kebetulan ada kuota terbatas hanya 25 KK dikhususkan untuk desa tetangga. Saya ikut, dan Alhamdulillah diterima,” jelas Jopy.

Dengan berjalannya waktu, pada tahun 2015 dirinya mendapat lahan yang dihibahkan oleh pemerintah seluas 5 hektar. Kemudian, mulai bercocok tanam dan beradaptasi dengan transmigran lainnya. Hanya saja, mereka harus menghadapi kendala, yakni kekurangan stok air untuk pengairan kebun meskipun lokasi kawasan transmigrasi ini berada di pinggir danau.


“Tapi karena danaunya ada di bawah desa kami, sehingga air susah naik. Saya akhirnya berinisiatif untuk usul ke kepala desa dan disampaikan ke pemerintah provinsi untuk memperoleh pendanaan guna membuat saluran irigasi,” kata Jopy.

Tak lama setelah itu, anggaran akhirnya cair. Kemudian, Jopy mengajak warga lainnya untuk bergotong royong membuat saluran irigasi manual yang dapat mengalirkan air ke beberapa lahan perkebunan milik warga. Jenis tanaman yang ditanam oleh warga setempat antara lain, bawang merah, semangka, tembakau , dan kacang tanah. “Kami menjualnya ke pasar terdekat dan pasar di provinsi,” imbuh Jopy.


Adapun kreativitas lainnya yang lakukan adalah mengajarkan warga setempat untuk mengatur waktu menanam bibit. Tujuannya, kata Jopy, untuk meningkatkan jumlah hasil panen di desa Lidor yang kini sudah berjumlah 175 KK.


“Misalnya, saat saya memulai menanam bawang merah, maka 1,5 bulan kemudian sembari menunggu bawang panen, saya menanam semangka. Maka saat bawang merah panen, semangka juga memasuki panen. Jadi hasil panen kami lebih banyak jenisnya. Saya juga ajak masyarakat di sekitar untuk mengembangkan hasil komoditi sehingga bisa meningkatkan pendapatan. Tentu juga harus melihat perkembangan pasar,” tuturnya.

Pada kesempatan ini, Jopy sempat membeberkan, sebelum menjadi transmigran, dirinya yang bekerja sebagai petani hanya mampu memperoleh pendapatan Rp 25 juta per tahun. Tapi, siapa sangka setelah menjadi transmigran dan kini memiliki lahan sendiri seluas 5 hektar untuk berkebun, Jopy mampu meraup keuntungan hingga Rp 178 juta per tahun dari hasil panen.


“Jika ditambah aset tak bergerak dan modal tetap saya semuanya mencapai Rp 238 juta per tahun,” ujar Jopy yang menyebutkan jenis komoditi yang paling laris di pasaran adalah bawang merah. semangka dan kacang tanah.


Oleh sebab itu, Jopy berharap pemerintah pusat nantinya dapat memberikan bantuan berupa saluran irigasi permanen. Dengan begitu, dipastikan akan mampu meningkatkan hasil panen berkali-kali lipat. “Karena kalau ada irigasi permanen dapat diperkirakan kami bisa mengalami 2 sampai 3 kali masa panen dalam setahun,” pungkasnya. (*/sar/pro)

 

#WajahBaruKawasanTransmigrasi

#DitjenPKTrans

#KemendesPDTT


BACA JUGA

Kamis, 17 Januari 2019 16:07

MenPANRB : Public Trust, Elemen Penting Guna Penegakan Supremasi Hukum

JAKARTA—Pemerintahan yang kuat harus mendapatkan kepercayaan dari masyarakat agar dapat…

Kamis, 17 Januari 2019 15:56

Mahasiswa KKN Diminta Peduli Kondisi Sosial Masyarakat

JAKARTA—Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) melalui Direktorat …

Sabtu, 22 Desember 2018 14:02

Fokus Revitalisasi Politeknik, Dongkrak Lulusan Bermutu

BANDUNG—Target sasaran Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemristekdikti) pada…

Sabtu, 22 Desember 2018 13:35

Mahfud : Tugas Kampus Cetak Intelektual Bermoral dan Tanggung Jawab

BANDUNG—Maraknya kasus korupsi dan juga intoleransi di tengah kehidupan  masyarakat…

Sabtu, 22 Desember 2018 13:04

Pemerintah Dorong Peningkatkan SDM Milenial Berkualitas

BANDUNG—Sekretaris Jenderal Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemristekdikti),…

Jumat, 21 Desember 2018 00:35

Keren! Mahasiswa Indonesia Sabet 44 Emas di Ajang AUG 2018

JAKARTA--Sebanyak 50 mahasiswa Indonesia yang ikut dlam ajang ASEAN University…

Selasa, 11 Desember 2018 00:33

Penerapan Sistem Zonasi Harus Konsisten

JAKARTA—Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) saat ini tengah menggodok grand…

Senin, 10 Desember 2018 02:24

Hadapi Era 4.0 , Perguruan Tinggi Tinggalkan Metode Pembelajaran Konvensional

JAKARTA--Kemajuan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) di era revolusi industri…

Kamis, 06 Desember 2018 19:21

DPD RI Segera Bentuk Tatib Terkait Evaluasi Perda

JAKARTA—Kewenangan DPD RI melakukan pemantauan dan evaluasi atas Rancangan Peraturan…

Kamis, 06 Desember 2018 19:13

Senator Papua Prihatin Kasus Penembakan di Nduga

JAKARTA—Anggota DPD RI Provinsi Papua Carles Simaremare merasa prihatin atas…

Jual Kosmetik Ilegal di Medsos dan Salon, Tersangka Raup Untung hingga Puluhan Juta Rupiah

Edarkan Kosmetik Ilegal, Tiga Perempuan Muda Diciduk Polisi

Polres Balikpapan Bongkar Sindikat Curanmor Antar Provinsi

MenPANRB : Public Trust, Elemen Penting Guna Penegakan Supremasi Hukum

Mahasiswa KKN Diminta Peduli Kondisi Sosial Masyarakat

Sidang Lanjutan Tumpahan Minyak, JPU Hadirkan Dua Saksi Ahli

Polisi Olah TKP Kebakaran di Tenggarong, Asal Api Diduga dari Dekat Dapur

Yuk Mampir! Sop Kaki Kambing Sudi Mampir Buka Cabang di Samarinda

Ditlantas Polda Kaltim Gandeng Kaum Millenial Serukan Keselamatan Berkendara

Pesawat Tujuan Samarinda Mendarat Lagi di Bandara Balikpapan, 205 Penumpang Lewat Jalur Darat
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .
*