BREAKING NEWS | RAGAM | OLAHRAGA | KRIMINAL | NASIONAL | INTERNASIONAL | ADVERTORIAL

NASIONAL

Selasa, 10 April 2018 14:31
BREAKING NEWS
ALHAMDULILLAH, Sudah 18 Anak Alumni Suriah Tak Lagi Radikal
Suhardi menyampaikan ceramah di depan peserta PPRA 57 Lemhannas RI.

PROKAL.CO, JAKARTA – Gerakan Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) diyakini lebih berbahaya dengan Al Qaeda, yang selama ini menjadi musuh besar Amerika Serikat. Sebab, Al Qaeda hanya memusuhi Amerika, sementara ISIS memusuhi siapa saja. Bahkan, ISIS jauh lebih kejam dan lebih radikal. ISIS juga lebih berbahaya karena organisasi ini punya wilayah teritorial.

“Masih banyak orang Indonesia yang mau ke kantong-kantong pergerakan ISIS. Dan ingat, pelaku terorisme rata-rata juga cerdas-cerdas. Kalau tidak pintar, tidak mungkin mereka bisa bikin bom,” ujar Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Komjen Pol Suhardi Alius.

Penjelasan Suhardi disampaikan dalam ceramah di depan peserta Program Pendidikan Reguler Angkatan (PPRA) 57 Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas) RI, Selasa (10/4).

“Yang patut diwaspadai, ada 500-an warga Indonesia sempat tergabung ISIS, akan kembali ke Indonesia,” sebut Suhardi. Bahkan, radikalisme itu sudah menjalar sampai ke usia anak-anak.

Suhardi pun sempat menunjukkan video anak-anak di Suriah yang sudah jago menembak bahkan tidak punya rasa belas kasihan. Dalam video itu diperlihatkan anak-anak sudah mampu memegang senjata laras panjang, bahkan diajarkan membunuh orang dewasa.

Saat video diputarkan, terlihat cuplikan kekejaman dari ISIS. Beberapa peserta bahkan tidak berani melihat video sadis tersebut. Suhardi menyampaikan terpaksa menunjukkan cuplikan kekejaman ini untuk memberikan pemahaman kepada peserta, karena terorisme adalah ancaman nyata yang patut diwaspadai.

“Kalau anak-anak ini pulang ke Indonesia, tentu berpotensi menjadi teroris,” sebutnya. Karena itu, ia mengajak siswa Lemhannas untuk mewaspadai hal ini, harus peduli dengan kondisi lingkungan.

Dikatakan, sudah ada 18 anak-anak alumni Suriah di Indonesia, yang dibina dan dirangkul untuk kembali ke Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). “Anak-anak ini sebelumnya sudah sangat radikal. Tidak punya belas kasihan,” katanya.

Yang juga perlu diperhatikan adalah proses penerimaan para mantan narapidana terorisme. “Kadang ada keluarga yang tidak mau menerima, sehingga setelah keluar dari lembaga pemasyarakatan, merasa putus asa dan kembali melakukan aksi radikal,” sebutnya.

Ia mencontohkan Juanda, pelaku bom di Gereja Oikumene, Samarinda Seberang - Kalimantan Timur adalah mantan narapidana terorisme yang tidak diterima oleh keluarganya. Itu sebabnya, selalu diingatkan untuk tidak memarjinalkan mantan terorisme dengan alasan apa pun.

“Perlu peran serta pemerintah daerah untuk menerima para mantan narapidana terorisme ini agar bisa menjalani kehidupan dengan normal dan merasa diterima dengan baik,” bebernya. Apalagi, tak ada satu pun provinsi di Indonesia yang aman dari ancaman radikalisme dan terorisme. Semua provinsi, menurutnya sangat rawan. Terutama di wilayah perbatasan.

Dicontohkan, Sulawesi Tengah sempat mau dijadikan basis dari ISIS Asia Tenggara. “Dengan deteksi dini, akhirnya mereka mengalihkan basisnya ke negara lain,” katanya.

Belum lama ini, BNPT juga mempertemukan 124 mantan teroris dengan 51 korban aksi terorisme. “Mereka saling memaafkan dan saling berkomitmen menjaga keutuhan negara. Ini momen yang sangat mengharukan dan menjadi contoh dunia,” tuturnya. Saat ini, BNPT sudah membina 177 mantan teroris yang dilibatkan dalam kampanye damai.

Suhardi juga mengingatkan peran serta media untuk bisa memberitakan aksi radikalisme dan terorisme dengan proporsional. “Jangan sampai, pemberitaan yang dimunculkan justru berpotensi memunculkan sel teroris baru,” katanya. Sebagai contoh, saat pelaku terorisme dimakamkan dan diberitakan seolah seperti pahlawan, jelas hal itu akan menumbuhkan sel teroris baru.

Ia menegaskan, terorisme bukanlah ajaran Islam. Ia juga mengaku tidak setuju jika terorisme dikaitkan dengan agama Islam. “Ini sudah menyimpang, bukan lagi ajaran agama Islam,” tegasnya. (eff)

 

 

 

 


BACA JUGA

Selasa, 16 Juli 2019 18:11

Dongkrak SDM, Kemenristekdikti Panggil 57 Ilmuwan Diaspora

JAKARTA—Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) bekerjasama dengan…

Selasa, 09 Juli 2019 10:11

Lewat OSN, Bentuk Generasi Berdaya Saing

YOGYAKARTA—Olimpiade Sains Nasional (OSN) tingkat Sekolah Dasar tahun 2019 akhirnya…

Minggu, 07 Juli 2019 23:38

PGRI Akui Masih Banyak Persoalan Guru

JAKARTA—Ketua Umum Pengurus Besar Persatuan Guru Republik Indonesia (PB PGRI)…

Rabu, 03 Juli 2019 22:26

Kemendikbud Bentuk Tim Satgas Implementasi Zonasi Pendidikan

      JAKARTA--Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) terus mendorong…

Rabu, 03 Juli 2019 22:16

Banjir Promo Alat Tulis Jelang Tahun Ajaran Baru 

  JAKARTA--Menjelang tahun ajaran baru, sejumlah toko penjual perlengkapan sekolah…

Senin, 01 Juli 2019 15:15

Jumlah Pendaftar Meningkat, Sekolah ini Buka Rombel Khusus

JAKARTA--Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan melalui Direktorat Pendidikan Dasar dan Menengah…

Rabu, 26 Juni 2019 13:26

Kemendikbud Diminta Kaji Ulang Soal Sentralisasi Guru

JAKARTA—Ketua Umum Pengurus Besar Persatuan Guru Republik Indonesia (PB PGRI)…

Minggu, 16 Juni 2019 17:52

Strategi Perguruan Tinggi Ciptakan Entrepreneur Handal

    JAKARTA--Dalam rangka menanamkan jiwa dan semangat kewirausahaan di…

Senin, 27 Mei 2019 17:09

Jumlah Guru Rendah, Profesi Guru Kurang Diminati ?

JAKARTA--Meski pemerintah sudah mengeluarkan Undang - Undang no.14 tahun 2015…

Senin, 27 Mei 2019 17:04

PGRI Minta Peningkatan Akses Pendidikan Bermutu

JAKARTA--Ketua Umum Pengurus Besar Pesatuan Guru Republik Indonesia (PB PGRI),…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia.
*