BREAKING NEWS | RAGAM | OLAHRAGA | KRIMINAL | NASIONAL | INTERNASIONAL | ADVERTORIAL

RAGAM

Minggu, 10 Desember 2017 01:02
“Menjual” Toleransi di Kinibalu
CATATAN Oleh Lukman Maulana

PROKAL.CO, CATATAN

Oleh Lukman Maulana

 

SETIDAKNYA ada beberapa kata yang cukup populer didengar atau dibaca di media dalam dua tahun terakhir ini. Toleransi, radikalisme, pancasila, seakan masih enggan pergi dari tajuk-tajuk berita media nusantara. Bahkan kini, kata-kata tersebut seakan menjadi bahan “jualan” yang ampuh dalam menarik simpati dan memuluskan keinginan.

Kata “toleransi” misalnya, seakan menjadi kata baru yang harus dihapal oleh semua warga negara. Padahal kata ini sudah lama ada dalam buku-buku pendidikan moral dan kewarganegaraan bersama frasa padanannya, tenggang rasa. Kasus penistaan agama yang dilakukan oknum gubernur di ibukota setahun lalu semakin mempopulerkan kata ini ke peringkat atas “top chart”.

Menariknya, dengan mengklaim diri sebagai orang yang toleran, seakan menjadi berhak meng-intoleran-kan orang lain yang dianggap berbeda pandangan. Lihat saja pendukung gubernur penista agama yang sebelumnya berkoar-koar toleran dan menuduh lawannya sebagai radikal, justru melakukan aksi intoleran nyata dengan aksi walk-out dalam suatu acara resmi.

Hal yang sama berlaku pada kalimat “pancasila”, yang menjadi tameng bagi melakukan pembenaran atas perilaku yang sejatinya bertentangan dengan dasar negara tersebut. Peristiwa kekinian menjadi gambaran bagaimana pancasila sekadar jargon dan pembenaran atas suatu kesalahan. Lihatlah betapa sekelompok ormas yang mengklaim paling pancasila, paling toleran, justru melakukan aksi barbar nan radikal dengan membubarkan atau menolak kedatangan pemuka agama di suatu daerah.

Padahal sejatinya toleransi, sebagaimana diartikan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) berasal dari kata dasar toleran. Artinya, bersifat atau bersikap menenggang (menghargai, membiarkan, membolehkan) pendirian (pendapat, pandangan, kepercayaan, kebiasaan, kelakukan, dan sebagainya) yang berbeda atau bertentangan dengan pendirian sendiri.

“Jualan” toleransi belakangan juga terjadi di bumi etam. Tapi kasusnya tidak sama dengan paragraf sebelumnya. Melainkan, dijadikan alasan pendukung untuk melancarkan pembangunan rumah ibadah yang ramai mengundang kontroversi. Ya, saya membahas rencana pembangunan Masjid Al-Faruq di Lapangan Kinibalu.

Rencana pembangunan masjid tersebut memang diliputi pro dan kontra. Namun saya tidak dalam posisi mendukung atau menolak. Saya hanya ingin mengkritisi penggunaan kata “toleransi” yang disebut-sebut menjadi salah satu alasan kenapa masjid itu dibangun. Dalam keterangan persnya, Gubernur Kaltim Awang Faroek Ishak mengatakan bila pembangunan masjid ini bakal semakin menguatkan simbol toleransi Kaltim karena berada di antara katedral dan gereja.

Ya itu benar, tapi dengan harga yang mahal. Rp 73,8 miliar itu bukan angka yang kecil. Kelewat besar malahan kalau hanya untuk simbol toleransi. Sementara kontroversi yang berkembang memunculkan opini bahwa pembangunan masjid ini belum perlu. Baik di tengah kondisi perekonomian Kaltim yang tengah defisit, hingga pertentangan yang terjadi di masyarakat.

Mereka yang kontra beralasan Lapangan Kinibalu merupakan situs bersejarah, masih banyak masjid yang memerlukan bantuan, dan ada yang menyebut permasalahan lahan masih belum selesai. Ketimbang membangun masjid baru, alangkah eloknya bila masjid-masjid yang ada diperbaiki terlebih dahulu. Begitu katanya.

Di satu sisi, gubernur juga punya dasar. Dengan dalih lahan seluas 1,6 hektare itu merupakan kepunyaan pemprov, maka merupakan hak pemprov untuk membangun di atasnya. Pun begitu kapasitas masjid yang untuk menampung para pegawai pemprov diklaim masih kurang. Sehingga pembangunan masjid dirasa perlu.

Sebenarnya tujuan menampung jemaah salat pegawai pemprov sudah cukup memberikan alasan bagi gubernur. Tinggal nantinya bagaimana persoalan hukum berjalan di antara pemprov dan masyarakat yang kontra. Namun tampaknya alasan itu masih belum kuat. Sehingga sang KT-1 lantas menambahkan “penguat rasa”, bahwa pembangunan masjid ini untuk simbol toleransi.

Padahal bicara toleransi, Kaltim sudah sangat paripurna untuk itu. Lihatlah berbagai pusat keagamaan yang melingkupi semua agama yang ada di Indonesia. Dan bicara masjid, Kaltim sudah punya Islamic Center dan Masjid Raya, dua masjid megah yang sangat cukup mewakili kepentingan umat Islam.

Keberadaan Masjid Al-Faruq disebut simbol toleransi mungkin karena nantinya bakal berlokasi dekat dengan tempat ibadah agama lainnya. Tapi apakah untuk dibilang toleransi harus berdekatan satu sama lain? Nyatanya setoleran apapun, masjid dan tempat ibadah lainnya punya fungsi utama sebagai tempat ibadah. Bukan tempat untuk toleransi. Indonesialah tempat toleransi itu.

Mungkin masyarakat Indonesia menganggap simbol-simbol masih begitu penting. Sehingga bangunan fisik dan monumental perlu dibangun. Padahal yang lebih penting adalah hakikat dari toleransi itu sendiri. Yaitu terciptanya masyarakat yang saling menghargai, menghormati, dan membantu satu sama lain meskipun berbeda-beda dalam hal agama, suku, ras, dan golongan. Jangan sampai kejadian seperti penistaan agama terjadi seperti sebelum-sebelumnya.

Menurut saya, cukuplah gubernur mengatakan pembangunan masjid diperuntukkan tempat salat bagi para pegawai pemprov yang konon mencapai 8 ribuan orang di lingkungan tersebut. Ketimbang ikut-ikutan “menjual” toleransi demi memuluskan pembangunan. Karena saya melihat kata-kata seperti toleransi dan pancasila, kini tak ubahnya sebagai label yang bisa digunakan begitu saja, tanpa memandang kembali apa esensi sebenarnya dari kedua kata tersebut.

Saya yakin proses yang baik pasti akan menghasilkan pembangunan yang baik pula. Termasuk pembangunan masjid ini. Isu-isu mengenai agama merupakan hal yang sensitif, sehingga perlu ditangani dengan bijak, cepat, dan tepat. Jangan sampai malah menimbulkan keresahan di kalangan umat. Kalaupun ada pro dan kontra, saya yakin hukum di Indonesia bisa ikut membantu menyelesaikannya. (*)


BACA JUGA

Kamis, 19 Juli 2018 12:27

SMAN 2 Sangatta Utara Wakili Kaltim di Lomba PCTA

Samarinda, Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) 2 Sangatta Utara Kabupaten Kutai Timur berhasil menyabet…

Rabu, 18 Juli 2018 10:35

Kemenhan Kaltim Gelar Lomba Parade Cinta Tanah Air

Samarinda, Lomba Parade Cinta Tanah Air (PCTA) Tingkat SLTA / Sederajat dan Perguruan Tinggi tingkat…

Selasa, 17 Juli 2018 16:02

Kaltim Beri 18 Penghargaan di Harganas XXV Kutai Timur

Sangatta – Peringatan Hari Keluarga Nasional (Harganas)  Ke-25 tingkat  Provinsi Kaltim…

Minggu, 15 Juli 2018 11:50

Cegah Terorisme dengan Libatkan Masyarakat

Samarinda, Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme FKPT) Kalimantan Timur terus menjaga keutuhan Negara…

Kamis, 12 Juli 2018 15:51

Sarung Samarinda Akan Tampil di Solo Batik Carnival

Samarinda, Sarung samarinda yang menjadi ikon Kota Tepian, akan tampil pada Solo Batik Carnival, Provinsi…

Selasa, 10 Juli 2018 18:55

Mahasiswa Minta Pemilihan Rektor Sesuai Aturan

Samarinda, Perwakilan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Mulawarman Samarinda, melakukan unjuk…

Senin, 09 Juli 2018 12:59

Awang Faroek Minta Isran-Hadi Lanjutkan Pembangunan Kaltim

Samarinda, Gubernur Kalimantan Timur Awang Faroek Ishak meminta program pembangunan yang pro rakyat…

Senin, 09 Juli 2018 11:46

Akhirnya, Isran – Hadi Bertemu Awang Faroek

Samarinda, Gubernur terpilih Kalimantan Timur  2018-2023 Isran Noor – Hadi Mulyadi melakukan…

Jumat, 06 Juli 2018 14:39

Awang Faroek Klarifikasi Dugaan Politik Uang

Samarinda, Gubernur Kalimantan Timur Awang Faroek Ishak memenuhi panggilan  Badan Pengawas Pemilu…

Jumat, 06 Juli 2018 09:52

Dirut PDAM Tirta Kencana Samarinda Purnatugas

Samarinda, Direktur Utama Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Kencana Kota Samarinda, Alimuddin,…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .