BREAKING NEWS | RAGAM | OLAHRAGA | KRIMINAL | NASIONAL | INTERNASIONAL | ADVERTORIAL

RAGAM

Rabu, 29 November 2017 01:17
Lawan Bangkrut dengan Strategi Industrialisasi dan Hilirisasi

Dari Bincang Etam Garapan Metro Samarinda dan KPFM

BAHAS EKONOMI: Aji Dedi Mulawarman (paling kiri) bersama Sekprov Kaltim Rusmadi memaparkan strategi-strategi dalam membangun perekonomian Kaltim. (LUKMAN/METRO SAMARINDA)

PROKAL.CO, Bila tidak dikelola dengan baik, Kaltim bisa saja menemui kebangkrutan. Inilah salah satu bahasan dalam talk show “Bincang Etam” garapan Metro Samarinda bekerja sama KPFM, Selasa (28/11) kemarin. Dua narasumber pilihan membagikan ilmu dan strategi agar kondisi perekonomian Bumi Etam dapat diselamatkan.

LUKMAN MAULANA, Samarinda

Bertempat di lantai teratas Hotel Horison Samarinda, Jalan Imam Bonjol, Bincang Etam yang merupakan event perdana garapan Metro Samarinda berupaya meneropong perspektif ekonomi hingga 2030 mendatang. Kondisi keuangan dan perekonomian daerah yang belum juga membaik seakan menjadi isyarat diperlukannya strategi dalam pembangunan ke depan.

Sekretaris Provinsi (Sekprov) Kaltim Rusmadi yang menjadi narasumber pertama mengungkap, selama 40 tahun terakhir sampai sekarang, pertumbuhan ekonomi di Kaltim masih kurang menggembirakan. Karena pertumbuhan ekonomi yang berkualitas itu ditandai dengan pertumbuhan yang terjaga, sekalipun kenaikannya tidak signifikan.

Sementara pertumbuhan ekonomi di Kaltim sejak 40 tahun yang lalu terus mengalami penurunan pertumbuhan. Dari 7 persen turun menjadi 5 persen, 3 persen, dan bahkan di tahun-tahun terakhir mengalami kontraksi sehingga pertumbuhannya negatif.

“Bahkan di posisi 2016 yang lalu pertumbuhan ekonomi kita minus 0,38 persen. Jadi rasanya dari 34 provinsi itu, Kaltim menjadi satu-satunya provinsi yang mengalami pertumbuhan ekonomi negatif,” kata Rusmadi membuka pemaparannya.

Kata dia, kalau tidak hati-hati dalam mengelola dan menata kelola ekonomi dengan semua potensi yang ada, bukan mustahil Kaltim bisa berada dalam posisi pailit.

Membahas pergerakan ekonomi Kaltim ini, Rusmadi membaginya ke dalam tiga tahap. Dimulai dari industri perkayuan, industri minyak bumi dan gas alam, hingga ditemukannya potensi pertambangan batu bara. Ketiga tahapan tersebut menunjukkan pengelolaan sumber daya alam secara ekstraktif tersebut nyatanya meninggalkan persoalan bagi Kaltim.

“Kalau kita tidak lakukan upaya-upaya ke arah industrialisasi dan hilirisasi, maka yang namanya minyak bumi, gas alam, dan batu bara ini suatu saat akan habis,” jelasnya.

Untuk itulah dia beranggapan, pengelolaan sumber daya alam bukan hanya ditujukan untuk masyarakat Kaltim saat ini saja. Melainkan juga untuk masyarakat Kaltim yang di masa depan. Khususnya berkaitan dengan sumber daya alam yang tidak dapat diperbarukan. Dari situlah gubernur merumuskan kebijakan yang disebut transformasi ekonomi.

“Artinya kita tidak boleh terus-menerus terjebak menerima saja. Tanpa sentuhan apapun, mengambil minyak bumi, gas, dan batu bara lalu diekspor. Nah, peranan pemerintah inilah yang harus hadir di dalam memanfaatkan potensi sumber daya ekonomi. Bagaimana migas dan batu bara ini bisa memberikan manfaat,” urai Rusmadi.

Karenanya pemerintah melakukan kajian atas ketergantungan terhadap sumber-sumber daya alam yang tidak dapat terbarukan. Hal ini mengingat sumber daya seperti migas dan batu bara tersebut hanya dapat bertahan dalam waktu yang terbatas.

Sehingga pemprov berpikir bagaimana pendapatan dari migas dan batu bara yang masih menghasilkan dapat diinvestasikan. Untuk menggali potensi-potensi ekonomi baru di luar sumber daya-sumber daya alam tersebut.

“Pertanyaannya adalah apakah potensi-potensi seperti pertanian khususnya perkebunan, kemudian potensi perikanan kelautan bisa langsung otomatis misalnya dapat menggerakkan perekonomian? Bisa membantu pendapatan daerah? Tentu tidak bisa seperti itu,” sebut pria yang pernah menjabat Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kaltim ini.

Dari latar belakang tersebut, pemprov mencoba membangun suatu strategi yang berujung pada program delapan hektare kawasan industri. Dengan pemikiran sederhana, potensi batu bara dan perkebunan di Kaltim masih bisa diperluas.

Misalnya pada komoditas kelapa sawit yang bukan hanya diekspor dalam bentuk crude palm oil (CPO). Melainkan masih dapat diolah menjadi produk-produk turunan lainnya seperti minyak goreng, margarin, serta kosmetik.

“Kenapa kita tidak berpikir untuk melakukan industri pengolahan hilirisasi. Sehingga kami bangun kawasan industri Maloy. Karena kalau tidak kita oleh, Kaltim tidak dapat apa-apa, hanya dapat hasil dari ekspor,” beber Rusmadi. Pembentukan kawasan industri ini nantinya dapat berdampak pada sektor-sektor lainnya seperti penciptaan tenaga kerja dan transportasi.

Pengembangan sektor-sektor potensial ini menurut Rusmadi tidak dapat dipisahkan dari pembangunan infrastruktur. Misalnya untuk sektor pariwisata di Berau, yang banyak dikeluhkan adalah ketiadaan akses yang memadai. Dari sanalah lantas dibangun fasilitas-fasilitas seperti bandara dan juga jalan.

“Wisatawan yang datang itu menginginkan kemudahan, berapa pun biayanya yang mereka keluarkan tidak menjadi masalah,” paparnya.

Singkat cerita, Rusmadi mengatakan bahwa bila Kaltim tidak ingin bangkrut, sangat ditentukan oleh pemimpinnya. Apabila pemimpinnya bernaluri kekuasaan, tentu tidak akan memikirkan nasib Kaltim hari ini dan ke depan. Karena peradaban ekonomi di dunia mencatat, bukan geografi, sumber daya alam, maupun kultur yang menentukan maju tidaknya sebuah bangsa.

“Tetapi lebih ditentukan oleh bagaimana ketika pemimpin itu diberikan kesempatan untuk kemudian betul-betul memanfaatkan potensi-potensi ekonomi dan sumber daya alam ini untuk berorientasi kepada kesejahteraan rakyat,” urai Rusmadi.

Dia mengatakan, tantangan Kaltim ke depan masih tetap pada masalah ekonomi. Bagaimana potensi sumber daya ekonomi ini diolah, dengan penekanan pada industrialisasi pengolahan. Karena kalau tidak ada industrialisasi pengolahan, maka hilirisasi tidak berjalan dan nilai tambah tidak akan berhasil.

“Kalau pemerintah mengedepankan infrastruktur seperti jalan tol, pelabuhan dan bandara itu pemikirannya sederhana saja. Kalau misalnya produknya tidak berdaya saing, masih mahal dengan mengeluarkan biaya-biaya transportasi yang tinggi, bagaimana mau bersaing,” ungkapnya.

Sehingga ketika pemerintah membangun pelabuhan dan bandara dalam satu kawasan industri, hal tersebut ditujukan dalam rangka menekan biaya ekonomi. Maka dibuatlah sebuah kawasan di mana produk dibuat dalam hitungan menit, langsung didistribusikan melalui pelabuhan dan bandara. Baik untuk keperluan domestik maupun ekspor.

PERLU ADA KEBIJAKAN DI LUAR EKSTRAKTIF

Saat Rusmadi mengulas strategi-strategi pembangunan yang dilakukan pemprov, narasumber kedua yaitu Aji Dedi Mulawarman menyoroti budaya ekstraktif yang telah mengakar di masyarakat Kaltim. Menurut Ketua Umum Dewan Pengurus Nasional Forum Dosen Ekonomi dan Bisnis Islam ini, perlu adanya kebijakan ekonomi di luar ekstraktif yang menjadi penyangga atau buffer.

Hal ini didasari pada proyeksi migas dan APBD yang disebut akan mengalami kenaikan. Namun kenyataannya hal tersebut belum juga terjadi. “Perlu adanya kebijakan ekonomi di luar yang bersifat ekstraktif. Yang menjadi penyangga, yang tidak terpengaruh pada harga pasar,” kata Aji Dedi.

Kebijakan yang dimaksud yaitu yang menggerakkan potensi-potensi yang ada dalam kerangka ekonomi kerakyatan. Yang tidak tergantung pada pergerakan pasar. Sumber-sumber daya alam yang dimiliki Kaltim, terlebih dulu dimaksimalkan untuk kebutuhan domestik. Dengan diversifikasi yang menjadikan potensi-potensi tersebut bisa lebih berdaya guna.

“Kita kaya akan batu bara tapi listrik masih kerap padam. Harusnya 10 sampai 20 persen batu bara tidak boleh keluar. Harus diproses terlebih dulu, misalnya jadi briket batu bara yang digunakan untuk kebutuhan lokal. Jangankah briket batu bara, briket limba CPO saja bisa jadi solusi,” terangnya.

Mengutip salah seorang tokoh, dia mengatakan, politik dan ekonomi yang bersifat ekstraktif bakal menghancurkan suatu negara. Namun apabila politik dan ekonomi tersebut bersifat proporsional, maka negara tersebut akan maju.

Dosen Universitas Brawijaya ini mengakui, membalik mentalitas kebudayaan dari yang sebelumnya ekstraktif menjadi kreatif tidaklah mudah. Hal tersebut membutuhkan waktu dan juga pendidikan. Karenanya, pembangunan ekonomi tidak boleh terpisah dari pembangunan kebudayaan dan pendidikan.

Menurutnya, kebudayaan punya hubungan erat dalam hal pembangunan ekonomi. Dia mencontohkan Kaltim yang memiliki banyak masjid. Hal ini menurutnya bisa dimanfaatkan menjadi suatu bentuk pariwisata halal yang kini tengah dikembangkan di berbagai daerah.

“Contohnya Nusa Tenggara Barat yang mendapat penghargaan pariwisata halal. Padahal masjid-masjid di sana tidak lebih bagus dari yang ada di Kaltim. Pembangunan ekonomi berbasis masjid ini menurut saya perlu dipertimbangkan,” urai Aji Dedi.

Dia menegaskan, integrasi sistem pembangunan utamanya bukan berorientasi pada investasi dan penerimaan daerah. Melainkan pertama-pertama pembangunan itu harus berorientasi untuk rakyatnya. Baru kemudian infrastruktur, investasi, dan hal-hal lainnya mengikuti.

“Bukan malah sebaliknya. Kalau kita mau berhasil, jangan mengikuti pola yang sudah pernah digunakan yang membuat kita masuk ke lubang yang sama,” kata Aji Dedi menutup materinya.

Selain pemaparan dari kedua narasumber, Bincang Etam juga diwarnai urun pendapat dari para peserta yang hadir. Para peserta berasal dari partai politik, lembaga swadaya masyarakat, dan organisasi kemasyarakatan. Dialog hangat ini dimoderatori oleh Aksan yang merupakan Dosen Universitas Mulawarman.

Waktu dua jam terlewatkan dalam talk show Pembangunan Ekonomi Kaltim 2030 bertajuk “Meracik Strategis, Melawan Kebangkrutan” yang dimulai sekira pukul 10.00 Wita ini. Sebagai penutup, Metro Samarinda memberikan kenang-kenangan berupa poster ilustrasi kepada kedua narasumber. Sebaliknya, kedua narasumber memberikan kenang-kenangan berupa buku.

“Sebagai bentuk apresiasi saya kepada Metro Samarinda atas diselenggarakannya kegiatan ini, saya berikan buku Pengelolaan Migas dan Batu Bara yang Kompetitif. Buku ini merupakan buku terbaru yang saya tulis yang merupakan sumbangan pemikiran untuk bangsa Indonesia dalam pengelolaan migas dan batu bara,” pungkas Rusmadi. (***)


BACA JUGA

Selasa, 14 November 2017 09:07

Ubah Paradigma Anak Muda pada Industri Kreatif Digital

BALIKPAPAN- Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) menggelar acara Bekraf Developer Day (BDD),  Sabtu (11/11).…

Selasa, 14 November 2017 01:34

Aji Dedi Alternatif KT-1

SAMARINDA – Nama Aji Dedi Mulawarman belakangan santer terdengar menjelang gelaran Pemilihan Gubernur…

Selasa, 14 November 2017 01:33

Aji Dedi Melesat

SAMARINDA – Penambahan suara yang terus terjadi mendukung Aji Dedi Mulawarman membuat dosen pascasarjana…

Sabtu, 11 November 2017 01:00

Aji Dedi Terus Bergerak

SAMARINDA – Masuknya nama Aji Dedi Mulawarman, Ketua Umum Dewan Pengurus Nasional Forum Dosen…

Selasa, 07 November 2017 23:57

Aji Dedi Mulawarman Hadirkan Kejutan

SAMARINDA – Kehadiran Aji Dedi Mulawarman sebagai salah satu kandidat bakal calon gubernur (Cagub)…

Selasa, 07 November 2017 00:44

Semangat Pemuda 1928 untuk Indonesia

Oleh: Riska Mahasiswa Universitas Mulawarman Kini manusia hidup dalam di mensi kemajuan teknologi informasi…

Selasa, 07 November 2017 00:43

Aji Dedi Mulawarman Ramaikan Bursa Cagub Kaltim

SAMARINDA – Bursa bakal calon gubernur (Cagub) Kaltim 2018 di polling garapan Metro Samarinda…

Selasa, 17 Oktober 2017 21:52

Telkom Peduli Budaya Nusantara

BALIKPAPAN- Tarian Dayak yang menjadi kekhasan dari Kaltim ditampilkan Senin (16/10) malam menarik perhatian…

Selasa, 17 Oktober 2017 21:26

Setia Pakai Daihatsu, Mobil Warga Ini "Disulap" Jadi Seperti Baru Lagi

BALIKPAPAN- Empat warga Balikpapan ini beruntung membeli mobil Daihatsu. Karena setia pada pabrikan…

Rabu, 11 Oktober 2017 00:00

KPU Buka Penerimaan PPK PPS

SAMARINDA – Seleksi penerimaan Panitia Pemilihan Kecamatan (PPK) dan Panitia Pemungutan Suara…

“Menjual” Toleransi di Kinibalu
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .