BREAKING NEWS | RAGAM | OLAHRAGA | KRIMINAL | NASIONAL | INTERNASIONAL | ADVERTORIAL

RAGAM

Sabtu, 16 September 2017 22:55
Islam dalam Pusaran Kapitalis dan Komunis
Penulis: Agusriansyah Ridwan

PROKAL.CO, Penulis: Agusriansyah Ridwan

(Politisi PKS dan Anggota DPRD Kutim)

Propaganda dan stigma asal yang mempertahankan idiologi tauhid dan syariatnya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara dituduh teroris, radikal bahkan bagian dari ISIS. Akhirnya organisasi-organisasi keagamaan Islam yang ingin menegakkan kalimat tauhid dan syariat Islam bagi penganutnya di Indonesia justru dilabeli radikal.

Para ulama dan umat Islam di Indonesia sangat mengutuk dan tidak simpati dengan ISIS, karena ISIS adalah sebuah organisasi boneka yang dibentuk untuk sebuah kekuatan opini dan untuk adu domba di Timur Tengah.

Berbagai literasi yang mampu menguraikan bagaimana ISIS adalah boneka yang dipersenjatai oleh kelompok liberal kapitalis (Amerika Serikat ) untuk melawan kekuatan Syiah yang didukung oleh komunis Rusia.

Perlu diketahui bahwa diperang dunia ke-II adalah perang antara negara Amerika Serikat, Rusia dan sekutunya untuk menghancurkan kekuatan fasisme yang dikendalikan negara sentral seperti Jerman, Italia, dan Jepang di kala Itu.

Perang yang perlahan mampu melumpuhkan kekuatan Italia, Jerman, dan Jepang berakhir ditandai  dengan pada tahun 1945 setelah di bomnya Hiroshima dan Nagasaki, Jepang.

Sejak tahun 1945 maka skenario konspirasi dunia dalam politik supremasi idiologi dimainkan oleh Amerika Serikat dengan mengusung Idiologi liberal kapitalis dan Uni Soviet yang mengusung idiologi komunis.

Dampak yang dimunculkan dari perang dingin (Cool War) atau perang konspirasi AS dengan Uni Soviet adalah kedua negara digdaya ini mencoba memetakan negara-negara dunia untuk dikuasai dan ditundukan dalam aturan idiologi mereka.

Beberapa negara di belahan dunia mengalami perpecahan dan peperangan akibat adu domba kedua kekuatan idiologi politik ekonomi kedua negara tersebut dan yang menjadi korban begitu banyak adalah etnik-etnik minoritas yang melawan kapitalisme dan komunis.

Kita bisa lihat Jerman akhirnya, Korea, Vietnam dan beberapa negara di dunia terpecah dan mengalami perang saudara khususnya di negara Timur Tengah. Kita bisa lihat bagaimana Irak dan Iran diadu domba bertahun tahun oleh kekuatan kedua negara tersebut. Bahkan Taliban di bawah pimpinan Osama Bin Laden pun dilatih oleh tentara-tentara dan dipersenjatai oleh Amerika Serikat untuk melawan Iran (Syiah) yang dipersenjatai oleh Uni Soviet.

Kita bisa lihat bagaimana adu domba di Kuat di tahun 2000-an, bagaimana pembiaran pembantaian setiap detik terjadi di Palestina oleh kelompok Israel yang merupakan sekutu Amerika.

Pembantaian dan pertikaian yang tiada berkesudahan di Iraq setelah difitnahnya Saddam Husein oleh Amerika Serikat. Sekarang negara Syiria dimana ISIS yang di persenjatain oleh Amerika sebagaimana dengan apa yang mereka lakukan dengan Thaliban dengan menghadapi pasukan Asad Syiah yang didanai dan dibantu oleh komunis Rusia.

Polarisasi politik idiologi dengan adu domba seperti demikian untuk dilanggengkan oleh Amerika Serikat dan Uni Soviet (Rusia) di kuatkan dengan dibentuknya Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) sebagai yang harus diakui sebagai lembaga dunia.Namun ada tiga hal yang sangat ganjil dalam keberadaannya.

Pertama, PBB menetapkan daftar nama-nama teroris dari kalangan ulama dan Islam semua. Kedua, dalam sejarah negara-negara yang diserang Amerika dan sekutunya adalah negara-negara Islam berdasarkan resolusi PBB. Ketiga, negara-negara yang memiliki hak veto seperti Amerika Serikat, Perancis, Inggris, Rusia, dan China adalah negara yang beridiologi liberal kapitalis dan komunis saja.

Kalau kita mau mencoba mengurai sejarah di Nusantara (Indonesia), kita bisa juga menelusuri sejarahnya bagaimana politik adu domba yang dilakukan Portugis, Tentara Nica, dan Kolonial Belanda dalam menjalankan 3G-nya yakni Gold, Glory, and Gospel (polarisasi menguasai kekayaan Nusantara, kejayaan, dan penyebaran agama).

Mari kita perhatikan apa yang dilakukan adu domba di kalangan kerajaan-kerajaan Islam pada masa itu di Nusantara kita di dalam perkembangannya. Bisa kita lihat di tahun 1900-an organisasi Syarikat Islam (SI) di susupi kader-kader komunis yang dari ISDV seperti Semaun dan Darsono yang akhirnya membuat SI menjadi dua yakni SI Putih dan SI Merah.

Atau bisa juga kita coba telusuri sejarah dimana di tahun 1948 Gerakan Muso menuntut dan memfitnah organisasi Islam di stigmakan radikal seperti Masyumi, HMI, dan NU, Muhammadiyah oleh Komunis (PKI) bahkan membunuh banyak ulama dan umat Islam pada masa itu yang akhirnya di antaranya Masyumi dibubarkan.

Pertikaian antara Komunis dan Liberalis Kapitalis terjadi juga di Indonesia dan yang menjadi korban adalah para Jendral kita dan sasaran meghancurkan NKRI dan Mengganti Pancasila kita bisa lihat peristiwa 1965. Jadi saya ingin menyimpulkan bahwa kita masuk dalam propaganda dan adu domba permainan konspirasi politik idiologi dan ekonomi dari dari kekuatan Kapitalis dan Komunis dimana setelah mereka menguasai Eropa dan memporak-porandakannya. Demikian juga adu domba dan porak-porandanya Timur Tengah kini mereka ingin menghancurkan Asia Tenggara dan ASEAN tinggal akan menjadi kenangan, kini mereka telah menguasai politik idiologi dimana negara-negara di dunia tunduk kepadanya.

Kini mereka sedang menjalankan sekaligus politik ekonominya di ASEAN setelah ekonomi eropa dikuasai, minyak-minyak di Afrika dan Timur Tengah dikuasai. Kini kita juga dipertontonkan berulang kali kejadian Genosida terhadap penganut Islam dimana-mana. Di Yugoslavia, Serbia, Palestina, Thailand, Filipina, Uighur di Cina, Rohingya di Myanmar di belahan Afrika Utara dan lain-lain.

Dalam melakukan agitasi dan propaganda agar mereka tidak dikatakan sebagai gerakan rasialis maka selalu yang dijadikan kambing hitam adalah ekonomi, politik, dan idiologi. Padahal sejarah mencatat bahwa agenda pembasmian atas nama etnik dan agama itu nyata terjadi dan menjadi hidden agenda di dalam perkembangannya.

Sedikit saya ingin memberi catatan bahwa kekuatan umat Islam di Indonesia telah membuktikan kecintaannya terhadap NKRI. Karena para ulama dan umat memimpin langsung perjuangan dalam melawan penjajah. Bahkan tokoh-tokoh Islam seperti KH Wahid Hasyim, Kahar Muzakkir, Ki Bagus Hadikusumo, Kasman Singodimedjo, dan Mr Teuku M Hasan, dan lainnya yang tergabung di PPKI ikhlas mengganti sila 1 menjadi “Ketuhanan Yang Maha Esa” dari dasar negara kita pada tanggal 18 Agustus 1945. Hal ini membuktikan juga sekaligus bahwa umat Islam sangat mencintai Kebinekaan.

Fenomena dihadapkan kita juga memperlihatkannya kelompok yang berhaluan pola fikir liberal kapitalis dan komunis mengklaim paling pancasilais dan demokratis dan toleran dalam Kebinekaan.

Di sisi lain kelompok yang menjalankan hak keyakinan keislaman dan ketauhidan-nya sebagai amanat Pancasila dan UUD 1945 dituduh intoleransi dan radikalisme. Implikasi dari ketidakadilan dan ketimpangan hak dan hukum tentu adalah ketidakstabilan politik dan ekonomi.

Kita bisa lihat negara kita terseok-seok dalam keuangan dan perekonomian, sektor pajak dijadikan tumpuan paling dominan sehingga mencekik masyarakat, bahan pokok, kebutuhan dasar begitu mahal dirasakan oleh rakyat di tengah hiruk-pikuk politik yang tak kondusif dan saling mematikan dan sandra antara anak negeri. (***)


BACA JUGA

Jumat, 17 November 2017 00:12

Didukung Ulama dan Presidium Aksi 212, Aji Dedi Kian Mantap Menuju Pilgub Kaltim

SAMARINDA – Keinginan Aji Dedi Mulawarman maju sebagai calon gubernur (cagub) di Pemilihan Gubernur…

Selasa, 14 November 2017 09:07

Ubah Paradigma Anak Muda pada Industri Kreatif Digital

BALIKPAPAN- Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) menggelar acara Bekraf Developer Day (BDD),  Sabtu (11/11).…

Selasa, 14 November 2017 01:34

Aji Dedi Alternatif KT-1

SAMARINDA – Nama Aji Dedi Mulawarman belakangan santer terdengar menjelang gelaran Pemilihan Gubernur…

Selasa, 14 November 2017 01:33

Aji Dedi Melesat

SAMARINDA – Penambahan suara yang terus terjadi mendukung Aji Dedi Mulawarman membuat dosen pascasarjana…

Sabtu, 11 November 2017 01:00

Aji Dedi Terus Bergerak

SAMARINDA – Masuknya nama Aji Dedi Mulawarman, Ketua Umum Dewan Pengurus Nasional Forum Dosen…

Selasa, 07 November 2017 23:57

Aji Dedi Mulawarman Hadirkan Kejutan

SAMARINDA – Kehadiran Aji Dedi Mulawarman sebagai salah satu kandidat bakal calon gubernur (Cagub)…

Selasa, 07 November 2017 00:44

Semangat Pemuda 1928 untuk Indonesia

Oleh: Riska Mahasiswa Universitas Mulawarman Kini manusia hidup dalam di mensi kemajuan teknologi informasi…

Selasa, 07 November 2017 00:43

Aji Dedi Mulawarman Ramaikan Bursa Cagub Kaltim

SAMARINDA – Bursa bakal calon gubernur (Cagub) Kaltim 2018 di polling garapan Metro Samarinda…

Selasa, 17 Oktober 2017 21:52

Telkom Peduli Budaya Nusantara

BALIKPAPAN- Tarian Dayak yang menjadi kekhasan dari Kaltim ditampilkan Senin (16/10) malam menarik perhatian…

Selasa, 17 Oktober 2017 21:26

Setia Pakai Daihatsu, Mobil Warga Ini "Disulap" Jadi Seperti Baru Lagi

BALIKPAPAN- Empat warga Balikpapan ini beruntung membeli mobil Daihatsu. Karena setia pada pabrikan…

“Menjual” Toleransi di Kinibalu
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .