BREAKING NEWS | RAGAM | OLAHRAGA | KRIMINAL | NASIONAL | INTERNASIONAL | ADVERTORIAL

RAGAM

Sabtu, 08 Juli 2017 01:05
Kisah Achmad Fauza Noor Jadi Pekerja Sosial; Betah Mengabdi di Panti, Dampingi Anak-anak Bermasalah
MESRA: Fauza (kiri) bersama sang istri, Herlina.(DOK PRIBADI)

PROKAL.CO, Ketertarikan Achmad Fauza Noor terhadap permasalahan sosial telah ada sejak remaja. Selama satu dekade berkiprah di panti sosial, anak-anak berhadapan dengan hukum tak luput dari penanganannya.

LUKMAN MAULANA, Samarinda

Sejak remaja, Fauza sudah terlibat dalam berbagai kegiatan sosial. Di antaranya melalui kegiatan pramuka dan karang taruna di tanah kelahirannya, Tenggarong. Di usia belasan dia juga telah menjajal berbagai profesi. Mulai dari menjadi tukang sapu, tukang gali pasir, hingga kuli bangunan. Semua itu dilakoninya dalam rangka mencari pengalaman untuk bekal hidupnya.

“Ayah mendidik saya untuk bekerja keras. Kata beliau hasil jerih payah sendiri lebih nikmat daripada sekadar mengharapkan pemberian orang lain,” kata Fauza kepada Metro Samarinda (Kaltim Post Group).

Menjadi seorang guru pernah juga dilakoni Fauza. Kala itu, beberapa bulan setelah kelulusannya, dia diminta sang ayah membantu mengajar di SMEA YPK Tenggarong. Selama setahun di 1990, dia sempat mengajarkan mata pelajaran Tata Negara dan Teori Mengetik kepada adik-adik kelasnya. Namun pekerjaan guru rupanya bukan hal yang diminatinya kala itu.

“Saya sebentar saja menjadi guru. Setelah itu saya ikut saudara saya bekerja di bagian rumah tangga Gubernur Kaltim di Lamin Etam,” kenang anak kelima dari delapan bersaudara ini.

Terhitung sejak 1990 hingga 2000, Fauza bekerja di Pemprov Kaltim sebagai tenaga teknisi. Berbagai hal dia tangani, mulai dari memperbaiki listrik, pendingin ruangan, telepon, hingga air. Memperbaiki piranti elektronik memang menjadi kegemarannya. Bakat ini diasahnya sejak dia duduk di bangku SMP. Keahlian inilah yang lantas mengantarnya menjadi pegawai negeri sipil (PNS).

Satu dekade mengabdi di Lamin Etam, Fauza dimutasi ke Dinas Sosial Provinsi Kaltim. Dia dipercaya menjadi staf umum, dengan tetap menjalankan fungsinya sebagai teknisi dan pengurus barang. Kemudian di 2007, dia dipindahkan ke UPTD Panti Sosial Asuhan Anak Harapan (PSAAH). Di panti sosial inilah dia pertama kali bersentuhan dengan anak-anak penyandang masalah kesejahteraan sosial (PMKS).

“Saya menangani anak-anak putus sekolah, yang ingin sekolah tapi tidak ada biaya. Anak-anak ini berasal dari 10 kabupaten/kota di Kaltim. Ada juga yang dari daerah pelosok kampung yang tidak memiliki jenjang pendidikan berikutnya, sehingga bersekolah di sini,” urai Fauza.

Di PSAAH, Fauza bertindak sebagai staf penyantun dan pelayanan. Mengurus dan mempersiapkan kebutuhan anak-anak Kaltim untuk bisa tetap sekolah menjadi pekerjaannya sehari-hari. Termasuk, dia ikut menjadi tenaga seleksi bagi mereka yang terpilih dalam program bantuan Dinas Sosial Kaltim tersebut. Jumlah anak yang ditanganinya mencapai jumlah sekira 200-an anak.

“Itu mulai dari jenjang SD hingga SMA. Di PSAAH, saya juga merangkap teknisi dan pengurus barang aset daerah,” tambahnya.

April 2011, Fauza dipindah ke UPTD Panti Sosial Bina Remaja (PSBR) Kaltim. Sempat menjadi staf tata usaha, dia lantas dipercaya menjadi staf penyantun dan pelayanan di PSBR. Tak jauh berbeda dengan PSAAH, di PSBR dia menangani bimbingan mental sosial dan keterampilan untuk anak-anak putus sekolah. Termasuk di antaranya anak-anak yang berhadapan dengan hukum.

“Untuk anak-anak reguler di PSBR, di tahun ini jumlahnya mencapai 40 anak. Sementara untuk anak-anak yang berhadapan dengan hukum, paling banyak kami menangani hingga 16 anak,” terang ayah tiga anak ini.

Tugasnya memastikan kebutuhan anak-anak yang menginap di panti sosial terpenuhi. Selama tinggal di panti, anak-anak ini diberi bimbingan dan pelatihan sesuai minat masing-masing selama tiga hingga empat bulan. Misalnya untuk anak perempuan mendapat pelatihan tata rias sedangkan anak laki-laki mendapat pelatihan otomotif.

“Anak laki-laki yang mengikuti pelatihan otomotif, kami magangkan di bengkel. Bengkel bisa merekrutnya sebagai karyawan bila merasa anak tersebut layak. Kalaupun tidak direkrut, setidaknya anak itu memiliki keterampilan yang bisa dimanfaatkan dengan membuka usaha di kampungnya,” beber Fauza.

Dia menjelaskan, anak-anak yang bermasalah atau berhadapan dengan hukum tetap perlu mendapat bimbingan. Sehingga dapat berbesar hati dengan kondisinya. Dari yang tadinya melanggar hukum dan peraturan agama, bisa kembali menjadi manusia normal sebagaimana mestinya.

Di sini Fauza bukan sekadar memenuhi kebutuhan anak-anak panti sehari-hari. Melainkan juga ikut memberikan bimbingan kepada mereka agar bisa menjadi pribadi yang lebih baik. “Saya dengarkan curahan hati mereka. Kalau misalnya mereka butuh lebih banyak bimbingan, kami mendatangkan psikolog ke panti,” ungkapnya.

Menurut dia, menghadapi anak-anak yang bermasalah dengan hukum tidak bisa dengan cara kekerasan. Khususnya untuk anak-anak yang memiliki sikap yang keras. Bukan dengan cara kasar, melainkan menghadapinya dengan lemah lembut. Mulai dari mengajak ngobrol, curhat, dan menanyakan apa yang diinginkan.

“Ditanyakan kenapa bisa sampai melakukan pelanggaran hukum. Mereka ini kan sebenarnya bermasalah karena lingkungan, karena keluarga yang broken home misalnya,” papar suami dari Herlina ini.

Fauza mengaku menikmati setiap tugasnya di panti sosial. Dia merasa senang bisa membantu anak-anak PMKS maupun anak-anak berhadapan dengan hukum bisa melanjutkan pendidikan mereka. Fauza mengungkap, sedari kecil dia memang punya keinginan untuk bisa membantu orang lain yang sedang dilanda kesusahan.

“Saya pernah ditawari bekerja di instansi lain ya. Tapi saya tolak, karena saya sudah betah bekerja untuk panti sosial,” tuturnya.

Selama mengabdi di panti sosial, Fauza menyebut banyak suka duka telah dilewatinya. Bagi dia, merupakan sebuah kebahagiaan tersendiri bila anak-anak yang ditanganinya bisa naik kelas atau berhasil lulus dalam ujian di sekolah. Sementara bisa menyelesaikan permasalahan yang terjadi di panti, merupakan hal yang berkesan bagi Fauza.

Dia bercerita, ada satu masalah yang paling berkesan selama menangani anak-anak yang berhadapan dengan hukum. Yaitu kasus yang menimpa seorang remaja 16 tahun dari Kutai Timur (Kutim). Remaja tersebut terjerat kasus pencurian kendaraan bermotor (curanmor) di Kotabangun. Setelah melewati masa hukuman selama setahun, remaja tersebut mesti dikembalikan kembali ke keluarganya.

“Masalahnya, kondisi ayah anak itu tidak memungkinkan untuk menerima si anak. Karena sang ayah mengalami gangguan kesehatan. Sehingga kami mesti mencari keluarga lain anak tersebut yang mau menerimanya,” jelas Fauza.

Hal ini membuat sang anak mesti menginap di panti hingga satu tahun delapan bulan. Sampai akhirnya, Fauza beserta rekan-rekannya di PSBR bisa menemukan keberadaan ibu anak tersebut yang telah menikah lagi dan menetap di kawasan Melak. Sang anak lantas diantarkan kepada sang ibu yang bekerja di perkebunan kelapa sawit di sana.

“Berkesan karena proses pencarian ibunya tersebut memakan waktu yang lama,” sambung pria kelahiran Tenggarong, 49 tahun lalu ini.

Fauza yang juga menjabat Ketua RT 03 Kelurahan Karang Anyar ini menyebut, pekerjaan tidak perlu dipikir terlalu berat. Melainkan dijalani dengan sebaik mungkin. Harapannya ke depan, tidak ada lagi permasalahan sosial yang terjadi di Kaltim. “Khususnya masalah-masalah sosial yang berat,” pungkas kakek satu cucu ini. (***)

TENTANG FAUZA

Nama: Achmad Fauza Noor

TTL: Tenggarong, 29 Mei 1968

Istri: Herlina

Anak:

  1. Muhammad Fahrin Ramadhan
  2. Muhammad Fahrendi Rifaldi
  3. Raisa Fahrazna Putri Humaira

Menantu: Sarfida

Cucu: Muhammad Arfa Al-Hafid

Pendidikan:

-          SD 015 Tenggarong

-          SMPN 03 Tenggarong

-          SMEA-YPK Tenggarong

Alamat: Jalan Banggeris Gang 10 RT 3 Nomor 27 Karang Anyar, Samarinda

 


BACA JUGA

Minggu, 24 September 2017 00:11

PAD Kaltim Bertambah Rp 180 M

SAMARINDA – Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kaltim direncanakan bakal mengalami pertambahan dalam…

Minggu, 24 September 2017 00:09

Ribut-Ribut Ngomongin PKI

Oleh: Lukman Maulana, Wartawan Metro Samarinda  Ada sebuah isu yang begitu menarik menjadi bahasan…

Sabtu, 16 September 2017 22:55

Islam dalam Pusaran Kapitalis dan Komunis

Penulis: Agusriansyah Ridwan (Politisi PKS dan Anggota DPRD Kutim) Propaganda dan stigma asal yang mempertahankan…

Rabu, 13 September 2017 00:43

Dari Hobi dan Seni hingga Koleksi Motor Antik Seharga Rp 350 Juta

Hobi terkadang membuat orang bisa melakukan apa saja. Bahkan untuk hal-hal yang dianggap “nyeleneh”.…

Minggu, 10 September 2017 00:09

Klaim Punya Modal dampingi Rita, Nusyirwan Siap 100 Persen

“Dalam konteks koalisi, saya direstui dan diberikan izin oleh partai untuk melamar di Golkar sebagai…

Minggu, 10 September 2017 00:08

Kisah Hariyanto Pimpin Hotel Grand Elty Singgasana, Kukar, Rutin Latih Karyawan, Tak Segan Berbagi Ilmu

Sebagai pekerja hotel, Hariyanto harus siap dengan segala kemungkinan di depan. Termasuk ketika dipercaya…

Sabtu, 09 September 2017 00:27

Pemuda Bisa Kuasai Dunia Digital

SAMARINDA – Perkembangan teknologi digital memberikan ruang yang luas bagi munculnya industri-industri…

Sabtu, 02 September 2017 19:28

Lanud Balikpapan Bagikan 1.000 Bungkus Daging Kurban  

BALIKPAPAN- Pangkalan Udara Balikpapan pada perayaan kegiatan ibadah  Idul Adha 1438 Hijriah membagikan…

Selasa, 29 Agustus 2017 22:10

WOW MEMBANGGAKAN..!! Paper tentang Problem Kepasiran di Sumur Migas Bawa Mahasiswa Balikpapan Ini ke Paris

Fadhil Rizadi patut bangga. Dia mewakili Indonesia di ajang internasional. Mahasiswa asal Balikpapan…

Senin, 28 Agustus 2017 15:43

Modifikasi di Kalimantan Berani Custom dan Kombinasi Warna

BALIKPAPAN- Ajang modifikasi IAM MBtech 2017 ke-11 yang berlangsung di Bumi Borneo, tepatnya di Plaza…

Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .