BREAKING NEWS | RAGAM | OLAHRAGA | KRIMINAL | NASIONAL | INTERNASIONAL | ADVERTORIAL

RAGAM

Sabtu, 08 Juli 2017 01:04
Cerita Rusliansyah Bangun Usaha Burjo Aldes; Terinspirasi Sang Bunda untuk Bangkit dari Kegagalan
TENTANG RUSLI(LUKMAN/METRO SAMARINDA)

PROKAL.CO, Semangat berwiraswasta seakan mengalir dalam darah Rusliansyah. Beberapa kali gagal berbisnis, tidak membuat pegawai negeri sipil (PNS) di Kota Tepian ini patah arang. Buktinya selama lima tahun terakhir dia eksis dengan usaha warung bubur kacang hijau.

LUKMAN MAULANA, Samarinda

Menjadi seorang PNS di salah satu institusi pendidikan bukan lantas membuat Rusli, begitu pria ini akrab dipanggil, berpuas diri. Minatnya berwiraswasta membuka usaha sendiri begitu besar. Makanya ketika dia melihat peluang usaha, langsung saja dijalani penuh percaya diri. Tanpa terasa, lima tahun sudah dia membuka usaha warung bubur kacang hijau (Burjo) yang diberinya nama Aldes.

“Nama Aldes saya ambil dari nama kakak dan kakak ipar saya. Mereka berdua yang pertama kali menjaga warung saya,” kenang Rusli kepada Metro Samarinda (Kaltim Post Group).

Namun jauh sebelum menggeluti usaha burjo, Rusli sudah terlebih dulu menjalankan beberapa usaha. Dimulai sejak 2007, ketika dia masih berstatus pegawai honor. Kala itu dia sudah membuka usaha toko kelontong yang menjual kebutuhan sehari-hari. Rusli menyebut, keinginannya untuk berusaha terinspirasi dari sang bunda yang merupakan pengusaha kue.

“Ibu saya seorang pengusaha. Beliau membuat kue-kue tradisional. Semangat beliau yang membuat saya ingin terjun menjadi wiraswasta,” terangnya.

Sejak kecil Rusli sudah terbiasa membantu ibunya membuat kue. Dari situ timbul keinginan untuk ikut membuka usaha kue. Namun bila sang ibu membuat kue-kue tradisional, Rusli tertarik untuk mengembangkan roti modern dengan konsep bakery.

Sempat berkembang dan menghasilkan keuntungan, karena suatu sebab Rusli tak bisa melanjutkan usaha rotinya tersebut. Dia lantas beralih berbisnis ternak ikan lele yang kala itu tengah populer. Namun kondisi air yang tidak mendukung membuat Rusli mesti merasakan kegagalan usaha sekali lagi.

“Karena airnya dari eks tambang. Saya sudah tiga kali menebar bibit, tapi ikan-ikannya selalu mati,” jelas Rusli.

Kegagalan tersebut membuat Rusli sempat kehilangan semangat untuk kembali berbisnis. Sehingga Rusli hanya melakoni aktivitas rutinnya sebagai PNS. Hingga kemudian dia mendapat penawaran kerja sama dari seorang teman untuk berbisnis burjo. Rekannya yang menangani pembuatan burjo, sementara Rusli dapat tanggung jawab permodalan dan tempat.

“Termasuk membayar karyawan. Sistemnya bagi hasil. Modal saya waktu itu dari meminjam ke kantor dengan sistem potong gaji,” urainya.

Usaha burjo yang dikembangkan bersama rekannya tersebut mendapat sambutan baik. Apalagi usahanya bertempat di perguruan tinggi yang menjadi tempatnya bekerja. Pundi-pundi rupiah mengalir pada Rusli yang kemudian dibagikannya dengan rekannya tersebut setiap bulan.

Sayangnya, usaha yang sempat berjalan setahun tersebut mesti disudahinya karena suatu sebab. Meski laris manis, namun keuntungannya habis untuk membiayai berbagai kebutuhan yang muncul kala itu. Permasalahan yang dialami sang rekan serta karyawannya turut mempengaruhi usaha burjo.

“Masalah-masalah pribadi itu ikut mempengaruhi cita rasa bubur sehingga tidak lagi nikmat. Pembeli jadi berkurang,” sebut ayah empat anak ini.

Setelah bertahan beberapa waktu, Rusli akhirnya tak mampu meneruskan roda usahanya. Kerja sama dengan rekannya berakhir. Sementara Rusli mesti memiliki pemasukan untuk melunasi utang-utangnya. Belum lagi permasalahan internal di keluarganya yang semakin membuatnya terpuruk.

Namun seringnya merasakan kegagalan dalam berusaha membuat mentalnya terbentuk. Keinginan untuk berbisnis kembali muncul. Perjalanan sang ibu dalam mengembangkan usaha pembuatan kue menjadi inspirasi utama bagi Rusli untuk terus berkarya.

“Sampai sekarang ibu saya masih membuat kue. Beliau sering menceritakan kisah perjalanan dalam berusaha, suka dukanya hingga saat ini. Cerita-cerita inilah yang membuat saya kembali bangkit,” beber anak ketiga dari tujuh bersaudara.

Di mana ada kemauan, di situ pasti ada jalan. Suatu ketika, Rusli melintasi simpang tiga Jalan Siraj Salman dengan Jalan Pangeran Antasari. Saat itu dia melihat ada lokasi jualan yang disewakan tepat di tepi jalan persimpangan tersebut. Rupanya lokasi berukuran sekira 3 x 4 meter tersebut belum ada yang meminati. Sementara, hasratnya untuk kembali memulai usaha sudah tak tertahankan.

“Sebenarnya saat itu saya sedang kesulitan uang. Tapi saya usahakan untuk modal menyewa tempat tersebut. Tangan saya sudah gatal untuk kembali berusaha,” ungkap Rusli.

Lokasi yang strategis di pinggiran jalan raya dan dikelilingi perkantoran membuat Rusli mantap menyewa tempat tersebut. Di benaknya kala itu kembali bisa membuka warung burjo sebagaimana yang dilakukan sebelumnya. Dengan resep yang diberikan rekannya dulu, Rusli melihat potensi dalam usahanya ini.

“Apalagi selera masyarakat Samarinda atas burjo terbilang tinggi. Banyak yang suka,” tambah pehobi nonton film ini.

Dengan modal sekira Rp 10 juta yang meliputi biaya sewa dan bahan-bahan, Rusli mulai membuka usaha burjonya sendiri yang diberi nama “Aldes” tahun 2012. Dia mempekerjakan dua karyawan untuk produksi bubur dan melayani pembeli. Karena kesibukan sebagai PNS tidak memungkinkan Rusli mengontrol secara penuh proses jualan setiap hari yang dimulai pukul 14.00 Wita hingga maksimal pukul 22.00 Wita.

“Sesekali saya kontrol ke warung sepulang kerja. Intinya kepercayaan. Dengan pengalaman saya sebelumnya, saya bisa mengetahui kondisi penjualan bubur bila ada yang tidak sesuai,” papar Rusli.

Meski tak turun langsung dalam proses jualan, namun Rusli ikut dalam proses produksi. Setiap dua hari sekali dia membuat santan untuk buburnya. Sementara untuk pembuatan bubur dan ketannya diserahkan pada pegawainya. Namun, ada bagian resep yang sengaja dirahasiakan Rusli. Hal ini sesuai amanat dari teman yang sudah berbaik hari memberikan resep tersebut.

“Ini adalah amanah yang harus saya jaga. Jangan sampai resep ini menyebar luas, karena di situlah keistimewaan burjo ini,” kata jebolan S1 Akuntansi Manajerial Politeknik Negeri Samarinda ini.

Dengan resep istimewa tersebut, Burjo Aldes mulai diminati masyarakat. Satu per satu pelanggan berdatangan demi mencicipi menu bubur yang terdiri dari perpaduan kacang hijau, kacang merah, ketan hitam, dan santan tersebut. Sehingga dari hari ke hari omzetnya terus mengalami peningkatan. Dari yang awalnya mengumpulkan Rp 200 ribu dalam sehari, kini bisa mencapai Rp 1,1 juta dalam sehari.

“Satu porsi burjo kami jual Rp 6 ribu. Biasanya pelanggan yang datang bisa pesan lebih dari sekali. Kalau sedang ramai, selepas Magrib atau Isya buburnya sudah habis terjual semua,” ungkap Rusli.

Ketika warung sejenis telah menaikkan harga menjadi Rp 8 ribu untuk satu porsi burjo, Rusli tetap bertahan dengan harga Rp 6 ribu. Sementara harga bahan-bahan terus mengalami kenaikan. Praktis hal ini membuat keuntungan bersih yang didapatkannya menjadi berkurang. Namun bukan masalah bagi Rusli. “Buat saya untung tipis tidak mengapa, yang penting usaha bisa tetap lancar,” sambungnya.

Diakui Rusli, perjalanan Burjo Aldes tak luput dari kisah duka. Yaitu ketika terjadi banjir di Samarinda. Apalagi lokasinya berjualan merupakan daerah langganan banjir. Bila sudah begitu, praktis tidak ada pemasukan karena tidak bisa berjualan. Pelanggan pun malas datang karena mesti menerobos banjir.

Sementara pengalaman berkesan, ketika warung sedang ramai pembeli. Sehingga para karyawannya sampai tidak sempat untuk duduk karena mesti melayani pelanggan yang terus berdatangan. “Itu pernah terjadi. Bila melihat kondisi warung yang ramai, rasanya senang,” tutur pria kelahiran Samarinda yang bulan ini merayakan ulang tahun ke-33 ini.

Bekerja keras dalam berusaha sudah menjadi prinsip Rusli. Serta jangan pantang menyerah dalam berbisnis. Meski begitu, setiap kerja keras tersebut harus tetap dibatasi dengan aturan-aturan keagamaan. Yaitu bekerja secara halal dan jangan sampai melalaikan ibadah. Itulah pesan orang tua yang selalu pegangnya.

“Harapannya semoga burjo ini bisa semakin digemari pelanggan, bisa buka cabang baru, dan tentunya menjadi rezeki yang halal untuk keluarga,” pungkas suami dari Dina Marlina ini. (***)

Nama: Rusliansyah

TTL: Samarinda, 15 Juli 1984

Istri: Dina Marlina

Anak:

  1. Revina Aurellia
  2. Shelyn Zheyta Novelina
  3. Rheina Nur Aisyah
  4. Naurah Ramadhani

Pendidikan:

-          SD 058 Samarinda

-          SLTPN 05 Samarinda

-          SMAN 3 Samarinda

-          S1 Akuntansi Manajerial Politeknik Negeri Samarinda

Alamat: Gang Senyiur, Sungai Kunjang


BACA JUGA

Selasa, 14 November 2017 09:07

Ubah Paradigma Anak Muda pada Industri Kreatif Digital

BALIKPAPAN- Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) menggelar acara Bekraf Developer Day (BDD),  Sabtu (11/11).…

Selasa, 17 Oktober 2017 21:52

Telkom Peduli Budaya Nusantara

BALIKPAPAN- Tarian Dayak yang menjadi kekhasan dari Kaltim ditampilkan Senin (16/10) malam menarik perhatian…

Selasa, 17 Oktober 2017 21:26

Setia Pakai Daihatsu, Mobil Warga Ini "Disulap" Jadi Seperti Baru Lagi

BALIKPAPAN- Empat warga Balikpapan ini beruntung membeli mobil Daihatsu. Karena setia pada pabrikan…

Rabu, 11 Oktober 2017 00:00

KPU Buka Penerimaan PPK PPS

SAMARINDA – Seleksi penerimaan Panitia Pemilihan Kecamatan (PPK) dan Panitia Pemungutan Suara…

Minggu, 08 Oktober 2017 22:09

Semua Aset Negara Dinilai Ulang

    SAMARINDA – Semua asset negara alias barang milik negara (BMN) bakal dinilai ulang…

Minggu, 24 September 2017 00:11

PAD Kaltim Bertambah Rp 180 M

SAMARINDA – Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kaltim direncanakan bakal mengalami pertambahan dalam…

Minggu, 24 September 2017 00:09

Ribut-Ribut Ngomongin PKI

Oleh: Lukman Maulana, Wartawan Metro Samarinda  Ada sebuah isu yang begitu menarik menjadi bahasan…

Sabtu, 16 September 2017 22:55

Islam dalam Pusaran Kapitalis dan Komunis

Penulis: Agusriansyah Ridwan (Politisi PKS dan Anggota DPRD Kutim) Propaganda dan stigma asal yang mempertahankan…

Rabu, 13 September 2017 00:43

Dari Hobi dan Seni hingga Koleksi Motor Antik Seharga Rp 350 Juta

Hobi terkadang membuat orang bisa melakukan apa saja. Bahkan untuk hal-hal yang dianggap “nyeleneh”.…

Minggu, 10 September 2017 00:09

Klaim Punya Modal dampingi Rita, Nusyirwan Siap 100 Persen

“Dalam konteks koalisi, saya direstui dan diberikan izin oleh partai untuk melamar di Golkar sebagai…

Didukung Ulama dan Presidium Aksi 212, Aji Dedi Kian Mantap Menuju Pilgub Kaltim
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .