BREAKING NEWS | RAGAM | OLAHRAGA | KRIMINAL | NASIONAL | INTERNASIONAL | ADVERTORIAL

RAGAM

Minggu, 18 Juni 2017 00:34
Perjalanan Usaha Minyak Gosok Cap Banteng (1)
Warisan Turun-menurun, Bertahan hingga Tujuh Dekade
POPULER: Laila menunjukkan produk Minyak Cap Banteng beragam ukuran.(LUKMAN/METRO SAMARINDA)

PROKAL.CO, Dua bulan terakhir nama Minyak Gosok Cap Banteng, produk minyak gosok tradisional ramai diberitakan di media. Minyak beragam khasiat ini rupanya diproduksi secara rumahan di Samarinda Seberang. Siapa mengira produk jamu tradisional ini sudah eksis sejak tujuh dekade lalu.

LUKMAN MAULANA, Samarinda

Laila Al-Qadri tidak menyangka bila produk minyak gosok tradisional yang dirintis keluarganya bisa kembali dikenal. Bukan hanya oleh masyarakat Samarinda, melainkan juga masyarakat Indonesia secara luas. Padahal, Laila mengisahkan, keberadaan minyak ini telah ada jauh sebelum dirinya dilahirkan.

“Sudah sekitar 70 tahun lamanya. Minyak ini merupakan warisan turun-temurun dari leluhur kami. Saat ini sudah masuk generasi keempat,” terang Laila saat ditemui Metro Samarinda (Kaltim Post Group), Sabtu (17/6) kemarin.

Dia mengisahkan, kakek buyutnya, Habib Ahmad merupakan tokoh yang pertama kali membuka kawasan Muara Badak. Ilmu pengobatan tradisional yang dimiliki, lantas diwariskan pada putranya, Habib Saleh Alhasani. Oleh Habib Saleh, resep pengobatan tradisional tersebut lantas dijadikan sebuah produk minyak gosok yang diberi nama Minyak Gosok Cap Banteng.

“Awalnya sebatas untuk keluarga dan tetangga. Kemudian dikembangkan dan diperdagangkan secara luas. Khasiatnya untuk masalah tulang, luka, dan masalah-masalah kesehatan lainnya,” tuturnya.

Resep warisan ini lantas diturunkan pada putrinya, Syarifah Aminah. Usaha pembuatan minyak gosok ini kemudian dilanjutkan suami Syarifah yang merupakan menantu Habib Saleh, Habib Muksin Al-Hasani. Oleh Habib Muksin, resep minyak ini dikembangkan menjadi produk baru bernama Minyak Pahlawan.

“Meski punya nama berbeda, namun komposisi dan khasiatnya sama dengan Minyak Cap Banteng,” jelas Laila.

Sementara sang suami memproduksi Minyak Pahlawan, Syarifah Aminah melanjutkan estafet Minyak Gosok Cap Banteng. Oleh Syarifah, izin penggunaan nama dan resep Minyak Gosok Cap Banteng diberikan kepada putranya, Habib Rafiq Al-Hasani yang tak lain adalah suami Laila.

Produk minyak gosok tradisional dari keluarga Habib Ahmad ini pun terbagi dua. Yaitu Minyak Pahlawan yang dikelola keluarga besar Habib Muksin dan Minyak Gosok Cap Banteng yang dikelola Habib Rafiq.

“Minyak Gosok Cap Banteng dipasarkan di daerah Samarinda dan sekitarnya. Sementara Minyak Pahlawan pemasarannya di daerah Kaltim, di luar Samarinda. Terutama di wilayah Kalimantan Utara dan Balikpapan,” beber nenek sembilan cucu ini.

Meski warisan keluarga, Laila dan almarhum suaminya bukan lantas melanjutkannya begitu saja. Malahan, keduanya menjalankan usaha pembuatan Minyak Gosok Cap Banteng dari mulai nol. Sang suami hanya mendapat resep tradisional, tanpa dukungan lainnya. Laila ingat betapa sulitnya saat-saat pertama sang suami memproduksi dan memperkenalkan minyak ini di Kota Tepian.

“Awalnya minyak ini belum punya izin. Suami saya yang menguruskan izin usahanya. Mulai tahun 1980-an, kami mulai menjalankan usaha ini,” ujar perempuan berumur 56 tahun ini.

Dia mengenang perjalanan sang suami yang bersusah payah mempromosikan Minyak Gosok Cap Banteng kala itu. Dengan mengayuh sepeda, Habib Rafiq mendatangi warung-warung di Samarinda satu per satu menitipkan minyak hasil produksinya. Seiring berjalannya waktu, dengan modal kegigihan, Minyak Gosok Cap Banteng mulai dikenal di kalangan masyarakat Samarinda.

“Warung-warung mulai pesan. Termasuk juga toko Cina ada yang berminat. Dari yang awalnya pesan satu lusin, naik jadi lima lusin, sampai sepuluh lusin,” kenangnya.

Semakin berkembangnya usaha membuat Rafiq dan Laila mulai gencar dalam hal produksi. Apalagi kala itu produk minyak gosok tradisional belum begitu banyak di pasaran. Rafiq pun menambah modal dengan meminjam dari bank. Laila ingat kala itu dalam sekali produksi bisa menghasilkan seribu lusin Minyak Gosok Cap Banteng yang dikemas dalam botol.

“Dalam sebulan produk kami habis dan toko-toko kembali memesan. Sempat juga waktu itu kami mempromosikan produk kami melalui televisi dan radio, juga surat kabar,” tambah perempuan kelahiran Samarinda ini.

Namun sebagaimana roda berputar, perjalanan usaha Minyak Gosok Cap Banteng juga sempat mengalami penurunan. Bahkan usaha yang berbentuk perusahaan jamu (PJ) ini nyaris hampir kolaps karena masalah keuangan. Pinjaman kredit dari bank menjadi salah satu faktor penyebabnya. Rupanya pendapatan yang masuk tidak seimbang dengan nilai angsuran kredit yang mesti dibayar.

“Akhirnya kami putuskan untuk berhenti meminjam uang di bank. Kami pakai modal sendiri saja, dari keuntungan penjualan diputar kembali menjadi modal,” jelasnya.

Keputusan menutup keran pinjaman dari bank rupanya berdampak positif bagi jalannya PJ Minyak Gosok Cap Banteng. Meski produksi tak semasif sebelumnya, namun usaha Rafiq dan Laila dapat terus bertahan. Dari produksi Minyak Gosok Cap Banteng, mereka dapat menyekolahkan kedelapan anaknya. Juga bisa membangun gudang untuk keperluan produksi.

“Kami merasa uang yang kami dapatkan waktu itu mendapat berkah. Bisa kami makan bersama keluarga dan rekan-rekan kami. Almarhum Abah (Rafiq, Red.) sering mengundang banyak orang untuk makan bersama,” kenang Laila.

Menjadi bisnisnya seumur hidup, Rafiq pada akhirnya tidak mampu melawan usia. Tiga tahun lalu, Rafiq jatuh sakit sehingga tidak bisa lagi melakukan produksi. Laila yang telah menemani perjalanan Minyak Gosok Cap Banteng sejak pertama kali dirintis pun mengambil alih pekerjaan sang suami.

Laila menjadi kepala produksi dengan dibantu putra pertama, Abdullah. Putra sulung inilah yang kemudian melanjutkan warisan Minyak Gosok Cap Banteng setelah Rafiq mengembuskan napas terakhir di tahun ini.

“Makanya saya tidak menduga bila Minyak Cap Banteng bisa kembali booming dua bulan terakhir. Kalau Abah masih hidup, pasti akan sangat bahagia mengetahuinya,” sebutnya.

Ditanya tentang makna lambang banteng sebagai merek minyak ini, Laila mengaku tidak mengetahuinya. Kata dia, nama dan lambang banteng ini sudah ada sejak zaman leluhurnya. “Sudah ada dari dulu. Tapi sama sekali tidak ada hubungannya dengan partai politik, sekalipun warnanya sama,” tandas Laila berkelakar. (bersambung)


BACA JUGA

Selasa, 22 Agustus 2017 14:10

Guru Asal Sebatik Raih Gelar Juara I Guru SMA/SMK Berdedikasi

JAKARTA—Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) akhirnya mengumumkan bahwa dari 875…

Kamis, 17 Agustus 2017 12:56

Pecahkan Rekor Perayaan HUT RI di Batas Negara

    SEBATIK-Perayaan HUT ke-72 RI pagi ini di perbatasan Indonesia-Malaysia, akan ditandai…

Rabu, 16 Agustus 2017 23:55

Muluskan Jalan ke Negeri Jiran, Menteri: Jangan Hanya Jadi Seremonial

SEBATIK-Pemerintah tak ingin teras negara tidak kinclong. Proses pemulusan pun terus dilakukan. Agar…

Rabu, 16 Agustus 2017 23:48

Ekspor Perdana Bandeng Tanpa Duri ke Tawau

SEBATIK-Peluang usaha di kawasan perbatasan terbuka lebar. Salah satunya di Pulau Sebatik, Kabupaten…

Jumat, 11 Agustus 2017 09:57

Perusahaan Ini Tanam 2.000 Mangrove. Untuk Apa Ya?

PASER - Kerusakan lingkungan pesisir adalah salah satu masalah lingkungan yang harus diperhatikan dengan…

Selasa, 01 Agustus 2017 10:06

Direktur Kaltim Post Terima Kartu Kompetensi Wartawan Utama

SAMARINDA – Direktur Kaltim Post Rusdiansyah Aras mendapat kartu kompetensi wartawan utama dari…

Selasa, 01 Agustus 2017 09:55

Mau Tahu Berapa Banyak Wartawan yang Kompeten di Kaltim? Cek Ini

SAMARINDA – Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kaltim terus mendorong jurnalis di Kaltim untuk…

Selasa, 01 Agustus 2017 00:46

Aston Balikpapan Jadi Surga Para Pencinta Kambing

Bagi penikmat daging kambing, ada kabar gembira dari Aston Balikpapan. Khusus menyambut bulan kemerdekaan…

Sabtu, 29 Juli 2017 00:06

‘Daerah Pelosok Dianaktirikan', Pemprov Diminta Bijak

SAMARINDA – DPRD Kaltim menilai kesenjangan pembangunan antara perkotaan dan daerah pelosok sangat…

Sabtu, 29 Juli 2017 00:05

“Komunikasi adalah Kunci Kesuksesan”

SAMARINDA - Membangun sinergi dengan berbagai stakeholder terus dilakukan Metro Samarinda. Salah satunya…

Pecahkan Rekor Perayaan HUT RI di Batas Negara

Guru Asal Sebatik Raih Gelar Juara I Guru SMA/SMK Berdedikasi
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .