BREAKING NEWS | RAGAM | OLAHRAGA | KRIMINAL | NASIONAL | INTERNASIONAL | ADVERTORIAL

RAGAM

Rabu, 14 Juni 2017 00:55
Berbagi Kisah dengan Sastrawan Kaltim, Roedy Haryo Widjono (1); Jadikan Seni sebagai Perlawanan dan Kritik Sosial
DOK PRIBADI

PROKAL.CO, Seni adalah bentuk perlawanan terhadap kemapanan. Seni juga merupakan kritik sosial. Begitulah definisi seni menurut Roedy Haryo Widjono, sastrawan dan budayawan Kaltim. Melalui seni, pria yang akrab dipanggil “Romo Roedy”  ini melakukan pembelaan terhadap kehidupan.

LUKMAN MAULANA, Samarinda

Pekerjaan sebagai seniman bukanlah pekerjaan yang bisa dibanggakan. Setidaknya itulah anggapan para orang tua di masa lalu, bahkan mungkin berlanjut di masa kini. Roedy mengalami benar bagaimana adagium tersebut membuatnya sempat berselisih dengan sang ayah. Lantaran kata sang ayah, seniman dianggap tidak punya masa depan yang cerah.

“Sebagaimana orang tua zaman dulu, mereka ingin saya menjadi pegawai yang kehidupannya terjamin,” kenang Roedy saat ditemui Metro Samarinda (Kaltim Post Group).

Namun halangan orang tua tidak menyurutkan semangatnya untuk menggeluti dunia seni. Khususnya seni sastra yang digandrungi Roedy waktu itu. Membuat puisi dan syair bertema kritik sosial sudah menjadi bagian dari kehidupannya sehari-hari. Pada akhirnya orang tua Roedy bisa menerima jalan yang diambil anak keempat dari 12 bersaudara tersebut.

“Apalagi disadari bahwa bakat seni saya menurun dari orang tua. Ayah saya dulu penyanyi keroncong,” jelasnya.

Bukan cuma bakat, lingkungan kampung tempat Roedy tinggal di Manahan, Solo yang berperan besar dalam membentuk jati dirinya sebagai seniman. Selepas SMA, dalam rentang 1974 sampai 1979, dia terjun secara penuh menekuni dunia seni. Kawasan Malioboro, Yogyakarta menjadi kawah candradimukanya mempelajari seni secara mendalam dari lingkungan para seniman yang ada di sana.

“Saat itu para seniman muncul sebagai bentuk perlawanan pada kemapanan, pada ketidakadilan pemerintah,” kata Roedy.

Seni di masa itu disajikan dalam bentuk kritik-kritik sosial terhadap kebijakan pemerintah. Proses-proses kreatif dari kritik-kritik sosial itu yang lambat laun mendekatkan para seniman pada realita sosial. Dari situ, muncul bentuk perlawanan dan edukasi atas akal sehat.

Kata Roedy, di masa orde baru waktu itu terjadi pengekangan pada karya-karya seni yang diharuskan tunduk pada kekuasaan pemerintah. Sehingga tak jarang ada pentas drama yang dibredel karena dianggap tidak sesuai dengan keinginan penguasa.

“Ketidakadilan inilah yang perlahan memunculkan ide-ide kreatif untuk melakukan perlawanan,” tambah pria yang mengaku seangkatan dengan Ebiet G Ade dan Emha Ainun Najib ini.

Ditambah lagi, kala itu ada paradigma bahwa kesenian waktu itu mesti berkiblat pada Jakarta. Paradigma tersebut dianggap mengekang kebebasan dalam berkesenian. Sehingga kemudian memunculkan kelompok-kelompok seniman yang disebut seni bawah tanah dan seni pinggiran. Melalui karya seni, para seniman kala itu melakukan pembelaan terhadap kehidupan.

“Seni itu memang harus berpihak. Yaitu berpihak pada kehidupan-kehidupan yang termarginalkan, pada kelompok-kelompok yang tersisihkan, pembelaan kemanusiaan. Seni sebagai bagian dari budaya adalah pembelaan terhadap kehidupan,” papar Roedy.

Dengan fokus di seni sastra, Roedy bergabung bersama rekan-rekan seniman lainnya dari berbagai jenis seni. Mulai dari seni musik hingga seni gerak. Aneka bentuk seni tersebut dipentaskan secara bersama menjadi suatu kesatuan aksi yang bukan hanya menarik, melainkan turut membawa pesan-pesan dan kritik terhadap permasalahan sosial yang tengah terjadi.

“Kami pentas di mana saja. Baik pada momen-momen tertentu atau menciptakan momen-momen sendiri. Bagi kami, panggung kami adalah dimana saja kami hidup. Tidak seperti sekarang yang mesti menunggu momen-momen khusus dan di tempat-tempat tertentu,” ungkapnya.

Saat itu para seniman juga bisa begitu berbaur tanpa memandang jenis seni yang diusung masing-masing. Tidak seperti sekarang yang cenderung tersegmentasi dalam formalitas identitas dan aliran-aliran seni tertentu. Padahal semua jenis seni bisa ditampilkan bersama-sama dan saling menguatkan pesan yang ingin disampaikan kepada masyarakat.

“Misalnya masalah banjir. Bukan hanya bisa diekspresikan melalui puisi, tapi bisa juga melalui seni lainnya seperti seni gerak dan seni tari,” ujar Roedy.

Bersama komunitas-komunitas seniman, Roedy kerap pentas dari satu tempat ke tempat. Hasil dari pentas itulah yang kemudian digunakan untuk kehidupan sehari-hari secara bersama-sama waktu itu. Kebersamaan tersebut secara tidak langsung merupakan proses bagi Roedy dan rekan-rekan lainnya dalam mengenal kehidupan lebih jauh.

“Waktu itu makan dan minum tidak penting. Yang penting itu kreativitas seni. Dengan ditemani rokok dan kopi. Meski lapar, tetap berkreasi. Kami melawan lapar dengan bercerita dan diskusi untuk melahirkan kreativitas yang bisa membunuh rasa lapar,” terang pria kelahiran Solo, 59 tahun lalu ini.

Kelaparan bagi Roedy dan rekan-rekannya waktu itu bukan sesuatu yang patut untuk ditakuti. Malahan, menjadi pengalaman mereka dalam melakukan perlawanan melalui seni. Dengan menjadi lapar misalnya, mereka bisa merasakan penderitaan yang dialami para pengemis yang mereka wakili dalam perlawanan.

“Ketika kami merasakan kelaparan, kami bisa mengerti seperti apa rasanya yang kemudian dituangkan dalam bentuk seni. Ketika kami ingin menuturkan tentang kelaparan, tentu harus mewakili kelaparan itu terlebih dulu,” kata Roedy yang telah menerbitkan empat buku kumpulan puisi karangannya ini.

Dia menjabarkan, aksi-aksi teatrikal yang jamak ditemui dalam kegiatan-kegiatan demonstrasi dewasa ini sebenarnya telah ada sejak lama. Namun tidak seperti sekarang, di zamannya dulu belum ada lembaga-lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang fokus bicara masalah-masalah sosial. Menurutnya, aksi demonstrasi sebaiknya tidak hanya dengan berteriak-teriak belaka. Melainkan mesti bisa mengekspresikan perasaan atas persoalan yang sedang dikritisi.

Sebagaimana saran yang diberikannya pada LSM Jaringan Advokasi Tambang (Jatam) dan Forum Pelangi di Kaltim untuk mengungkapkan perlawanan dengan jalan-jalan kebudayaan. Roedy meyakini, aksi demonstrasi akan bisa lebih diterima bila dilakukan melalui jalan kebudayaan ini.

“Misalnya dalam aksi menentang pertambangan, kami pernah membawa lesung di kantor gubernur. Para demonstran waktu itu melakukan aksi menumbuk di lesung yang isinya bukan beras, melainkan batu bara,” contohnya.

Bentuk aksi lainnya yaitu ketika para demonstran menyewa 20 kloset yang diletakkan di kantor gubernur. Perumpamaan aksi ini yaitu bahwa Kaltim bukanlah tempat pembuangan bagi industri pertambangan. Selain itu, dalam salah satu aksi juga pernah mengundang praktisi belian dari Bontang Kuala untuk “membersihkan” kantor gubernur.

“Tunjukkan bahwa persoalan-persoalan sosial yang disuarakan itu bukan hanya milik para demonstran maupun pemerintah. Tapi merupakan persoalan milik semuanya. Yaitu melalui jalan kebudayaan. Sehingga yang mengkritik bahagia, yang dikritik juga ikut bahagia,” jelas suami dari Yuliana Skolastika Karnella ini.

Aksi lewat jalan kebudayaan ini sendiri terbukti lebih disenangi ketimbang sekadar orasi dengan berteriak di jalanan. Roedy mengungkap, pernah suatu ketika kepala daerah tidak mau turun menemui demonstran yang berteriak-teriak. Sementara ketika aksi yang dilakukan menggunakan jalan kebudayaan, kepala daerah mau datang menemui demonstran. Bahkan sampai ada dua polisi yang ikut berorasi.

“Sehingga persoalan-persoalan sosial jadi milik bersama. Jadi bukan sekadar protes, melainkan memunculkan kesadaran akan akal sehat,” tandas Roedy. (bersambung)


BACA JUGA

Selasa, 22 Agustus 2017 14:10

Guru Asal Sebatik Raih Gelar Juara I Guru SMA/SMK Berdedikasi

JAKARTA—Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) akhirnya mengumumkan bahwa dari 875…

Kamis, 17 Agustus 2017 12:56

Pecahkan Rekor Perayaan HUT RI di Batas Negara

    SEBATIK-Perayaan HUT ke-72 RI pagi ini di perbatasan Indonesia-Malaysia, akan ditandai…

Rabu, 16 Agustus 2017 23:55

Muluskan Jalan ke Negeri Jiran, Menteri: Jangan Hanya Jadi Seremonial

SEBATIK-Pemerintah tak ingin teras negara tidak kinclong. Proses pemulusan pun terus dilakukan. Agar…

Rabu, 16 Agustus 2017 23:48

Ekspor Perdana Bandeng Tanpa Duri ke Tawau

SEBATIK-Peluang usaha di kawasan perbatasan terbuka lebar. Salah satunya di Pulau Sebatik, Kabupaten…

Jumat, 11 Agustus 2017 09:57

Perusahaan Ini Tanam 2.000 Mangrove. Untuk Apa Ya?

PASER - Kerusakan lingkungan pesisir adalah salah satu masalah lingkungan yang harus diperhatikan dengan…

Selasa, 01 Agustus 2017 10:06

Direktur Kaltim Post Terima Kartu Kompetensi Wartawan Utama

SAMARINDA – Direktur Kaltim Post Rusdiansyah Aras mendapat kartu kompetensi wartawan utama dari…

Selasa, 01 Agustus 2017 09:55

Mau Tahu Berapa Banyak Wartawan yang Kompeten di Kaltim? Cek Ini

SAMARINDA – Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kaltim terus mendorong jurnalis di Kaltim untuk…

Selasa, 01 Agustus 2017 00:46

Aston Balikpapan Jadi Surga Para Pencinta Kambing

Bagi penikmat daging kambing, ada kabar gembira dari Aston Balikpapan. Khusus menyambut bulan kemerdekaan…

Sabtu, 29 Juli 2017 00:06

‘Daerah Pelosok Dianaktirikan', Pemprov Diminta Bijak

SAMARINDA – DPRD Kaltim menilai kesenjangan pembangunan antara perkotaan dan daerah pelosok sangat…

Sabtu, 29 Juli 2017 00:05

“Komunikasi adalah Kunci Kesuksesan”

SAMARINDA - Membangun sinergi dengan berbagai stakeholder terus dilakukan Metro Samarinda. Salah satunya…

Pecahkan Rekor Perayaan HUT RI di Batas Negara

Ekspor Perdana Bandeng Tanpa Duri ke Tawau

Muluskan Jalan ke Negeri Jiran, Menteri: Jangan Hanya Jadi Seremonial

Guru Asal Sebatik Raih Gelar Juara I Guru SMA/SMK Berdedikasi
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .