BREAKING NEWS | RAGAM | OLAHRAGA | KRIMINAL | NASIONAL | INTERNASIONAL | ADVERTORIAL

RAGAM

Jumat, 10 Maret 2017 20:08
“Tidak Ingin Mencoblos Paslon Pilihan Ibu Lagi”

Meningkatkan Keikutsertaan Kaum Disabilitas pada Pemilu

INGIN MANDIRI: Agustin Ulmanda (kiri) bersama kedua temannya, Noor Adia Faulina (tengah) dan Ainun Mulqiah, ketika memperkenalkan diri dengan bahasa isyarat.

PROKAL.CO, Kepahaman para penyandang disabilitas terhadap pasangan calon (paslon) yang akan memimpin daerahnya acap kali minim. Lantas, pilihan coblos datang dari hati orang tua. Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kaltim menjanjikan, penyandang disabilitas fisik bakal mendapat pelayanan lebih baik pada pemilihan umum (pemilu) mendatang.


RAYMOND CHOUDA, Samarinda


“BELUM pernah,” jawab Agustin Ulmanda (20), ketika Kaltim Post mengajukan pertanyaan ; “apakah pernah mengikuti pemilu”. Namun Agustin segera merevisi jawabannya saat ditanya ulang, dan mengaku lupa bahwa dia sebenarnya pernah ikut serta dalam pemilu.

Tentang misi-visi pasangan calon (paslon) kepala daerah, perempuan yang menyandang disabilitas Tuli itu mengaku hanya tahu sebatas gambaran umum. “Ya, biasa. Mereka mau menyejahterakan semua masyarakat,” imbuh Agustin, melalui media sosial WhatsApp, usai ditemui di suatu forum pelatihan bahasa isyarat di Jalan Suwandi, Blok C, Nomor 49, Kecamatan Samarinda Ulu, Samarinda, Kaltim, pada 19 Februari.

Diketahui, penyandang tunarungu atau yang kini dianggap lebih sopan disebut Tuli umumnya kurang mampu berbicara secara verbal. Bahkan, sebagian tidak mampu sama sekali, sehingga lebih nyaman dengan bahasa isyarat.

“Khusus ke kaum disabilitas, terutama tunarungu, kami belum tahu sepenuhnya visi-misi paslon kepala daerah tanpa ada yang memberikan translate,” ucap perempuan yang kesehariannya disibukkan membantu orang tuanya menyuplai sayur-mayur ke pusat-pusat perbelanjaan di Samarinda itu.

Agustin menyatakan, dalam pemilu dia hanya bisa selalu mengikuti saja alur yang ada pada lingkungannya. “Sedikit atau banyak, selalu dikasih tahu oleh orang tua dan keluarga (paslon kepala daerah yang akan dicoblos),” tutur perempuan yang merupakan warga Jalan Sukorejo, Kelurahan Lempake, Kecamatan Samarinda Utara ini.

Penyandang Tuli lainnya, mahasiswi Universitas Brawijaya (Unbraw) Malang, Rieka Aprilia Hermansyah (24) berpendapat, bahwa sosialisasi merupakan hal yang harus diutamakan agar keikutsertaan kaum disabilitas pada pemilu bisa maksimal. Baik informasi tentang paslon kepala daerah, maupun terkait tata cara pemilu. Dia menekankan, jangan sampai pilihan para disabilitas merupakan suruhan orang lain.

“Baiknya, saat debat (paslon), pemerintah menyediakan penerjemah dengan bahasa isyarat, agar kami juga bisa mengerti. Tapi, jangan sampai menggunakan penerjemah yang tidak tepat, sehingga buang-buang biaya dan waktu akibat terjemahan sulit dipahami,”ucap aktivis disabilitas ini menggunakan bahasa isyarat Indonesia (bisindo), diterjemahkan temannya Ade Rima Suryani (23) ke bahasa Indonesia, ketika ditemui di tempat yang sama dengan Agustin, 19 Februari.

Seperti Agustin, ucap Rima, bahwa pernah kesulitan mengartikan maksud dari penerjemah bahasa isyarat oleh KPU di Samarinda saat pemilu beberapa waktu lalu. Masih diterjemahkan oleh Rima, Rieka mengaku, saat pemilihan Presiden pada 2009, ketika Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) bersaing dengan Megawati Soekarnoputri, dia tidak mengetahui informasi apa-apa tentang kedua paslon. Lantas, pilihannya hanya berdasarkan perintah ibunya.

Ketua Perhimpunan Penyandang Disabilitas Indonesia (PPDI) Kaltim Anni Juwairiyah menjelaskan, berdasarkan Undang-Undang Nomor 06 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas, semua orang yang menyandang disabilitas memiliki hak yang sama dalam kehidupan bermasyarakat. Sehingga, dalam pemilu kaum disabilitas harus mendapatkan pelayanan yang sama dengan masyarakat lainnya.

“UU itu menegaskan, penyandang disabilitas, termasuk Tuli, harus mendapat perlakuan sama di tengah masyarakat. Jangan sampai ada perbedaan,” tukas perempuan ini, dengan duduk di kursi roda saat diwawancarai awak media.

Terpisah, Katua KPU Kaltim Mohammad Taufik menerangkan, tingkat keikutsertaan penyandang disabilitas di Benua Etam --sebutan lain Kaltim-- sebenarnya sudah cukup tinggi. Saat pemilihan kepala daerah (pilkada) serentak pada 9 Desember 2015 di Kaltim, terdapat 2.400.159 data pemilih, dengan 1.390.082 pengguna hak pilih. Dari jumlah tersebut, terdapat 574 penyandang disabilitas yang menggunakan hak suaranya --dari total 924 penyandang disabilitas yang memiliki hak pilih.

Taufik menjelaskan, pemilihan gubernur (pilgub) Kaltim, maupun pilkada di Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) pada awal 2018 sudah disiapkan lebih matang. Penyandang disabilitas bakal bisa ikut serta dengan nyaman, sebab ketersediaan alat bantu pemilu maupun pelayanan di tempat pemungutan suara (TPS) telah dipersiapkan.

Dikatakannya, pemilu mendatang akan berkaca pada pemilu periode sebelumnya. KPU Kaltim akan melakukan bimbingan teknis (bintek) kepada para petugas pemilu di tiap tingkatan, agar semua berjalan sesuai standar. Tiap daerah wajib melapor jika ada warga yang menyandang disabilitas di wilayahnya, supaya tempat pemungutan suara (TPS) dapat dibentuk menyesuaikan keadaan calon pemilih tersebut. Baik sedikit maupun banyak jumlah penyandang disabilitas itu.

Taufik menambahkan, petugas TPS akan memberi pendampingan. Atau, bila pihak keluarga ingin mendampingi, maka KPU Kaltim menyediakan formulir C3 sebagai surat pernyataan pendamping pemilih. Dia mengulas, jika terdapat tunanetra, maka di suatu TPS wajib disediakan alat bantu coblos berupa template, yang dapat dibaca dengan meraba huruf timbul yang tersedia. Kemudian, didampingi selama proses pencoblosan. Sementara bagi penyandang disabilitas Tuli, juga diberi pendampingan, selama diperlukan.

Adapun tunadaksa, seumpama menggunakan kursi roda, maka lokasi TPS harus dikonsep sesuai kebutuhannya. Standar tinggi meja bilik suara diharuskan 70-90 sentimeter (cm), dan tinggi meja kotak suara adalah 35 cm dari lantai. Sementara pintu masuk dan keluar TPS minimal selebar 90 cm, dengan lantai yang wajib bersih dari bebatuan, rata tanpa lubang maupun parit, serta tidak berlumpur.

Begitu pula penyandang disabilitas lainnya, akan diberi pelayanan khusus, menyesuaikan kebutuhannya. "Semua itu disiapkan agar penyandang disabilitas dapat mengikuti pemilu secara mandiri. Tapi, pihak keluarga maupun petugas TPS yang mendampingi jangan sampai mempengaruhi,” celetuk dia, saat diwawancarai di ruang kerjanya, Kamis (2/3).

Persoalan pilihan paslon kepala daerah yang akan dipilih penyandang disabilitas, papar Taufik, merupakan kewenangan masing-masing paslon dan partai pengusungnya.
“Kami mengimbau, bahwa sosialisasi terhadap kalangan disabilitas adalah hal yang penting. Namun semua kembali pada tiap paslon dalam menyosialisasikannya, apakah mereka mementingkan kaum disabilitas atau tidak. KPU Kaltim hanya bertugas menyampaikan dan mengajak masyarakat untuk turut serta dalam pemilu,” tutur dia.

Panji Surya Saputra, penyandang disabilitas Tuli yang merupakan putra pertama dari artis ibu kota Dewi Yull, menyatakan, pemerintah saat ini sudah menunjukkan pelayanan pemilu lebih baik pada kalangan disabilitas. Terlebihnya di Jakarta.

"Tapi beberapa petugas di TPS masih belum memahami disabilitas lain. Misal, pemenuhan layanan akses untuk pengguna kursi roda di lokasi TPS," ungkap Surya kepada media ini, melalui media sosial WhatsApp.

Namun untuk dirinya, lelaki usia 22 tahun itu mengaku, mendapat layanan akses pemilu yang baik. "Sebab petugas TPS tahu saya Tuli. Jadi diarahkan baik oleh mereka," papar lelaki yang berkuliah di Universitas Sampoerna Jakarta ini. (*)


BACA JUGA

Minggu, 10 Desember 2017 01:02

“Menjual” Toleransi di Kinibalu

CATATAN Oleh Lukman Maulana   SETIDAKNYA ada beberapa kata yang cukup populer didengar atau dibaca…

Kamis, 30 November 2017 01:30

Kaltim, Ladang Emas yang ‘Miskin’ (2)

Catatan Oleh: Dirhan Kepala Biro Metro Samarinda SEJAK dimekarkan sebagai sebuah provinsi pada tahun…

Rabu, 29 November 2017 01:19

Bincang Etam Ala Metro Samarinda

Bincang Etam yang digelar Metro Samarinda di hotel Horison Samarinda berlangsung meriah, Selasa (28/11)…

Rabu, 29 November 2017 01:18

Pertahankan Kota Sehat Tertinggi

AKHIRNYA Kota Samarinda mampu mempertahankan penghargaan kota sehat predikat tertinggi dengan kembali…

Rabu, 29 November 2017 01:17

Lawan Bangkrut dengan Strategi Industrialisasi dan Hilirisasi

Bila tidak dikelola dengan baik, Kaltim bisa saja menemui kebangkrutan. Inilah salah satu bahasan dalam…

Selasa, 28 November 2017 00:57

Hari Ini Bincang Etam Garapan Metro Samarinda, Bahas Strategi Perekonomian Kaltim

SAMARINDA – Selasa (28/11) hari ini, Metro Samarinda menggelar talk show bertajuk Bincang Etam…

Selasa, 28 November 2017 00:55

Mengganti Logika Kemanusiaan (1)

CATATAN Oleh: Dirhan Kepala Biro Metro Samarinda Di penghujung tahun 2012 lalu, seorang lelaki yang…

Minggu, 26 November 2017 00:30

Metro Samarinda Gagas Bincang Etam

SAMARINDA – Terus merosotnya sumber pendapatan keuangan Pemerintah Kaltim, terutama yang bersumber…

Selasa, 14 November 2017 09:07

Ubah Paradigma Anak Muda pada Industri Kreatif Digital

BALIKPAPAN- Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) menggelar acara Bekraf Developer Day (BDD),  Sabtu (11/11).…

Selasa, 14 November 2017 01:34

Aji Dedi Alternatif KT-1

SAMARINDA – Nama Aji Dedi Mulawarman belakangan santer terdengar menjelang gelaran Pemilihan Gubernur…

“Menjual” Toleransi di Kinibalu
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .